Sosialisme dalam Konsep Manunggaling Kawula Gusti Syekh Siti Jenar
Syekh Siti Jenar merupakan salah satu tokoh yang sangat kontroversial dalam sejarah perkembangan agama Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa. Ia mempunyai beragam versi nama. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa Syekh Siti Jenar yang bernama asli Raden Abdul Jalil mempunyai berbagai nama julukan, di antaranya Syekh Abdul Jalil, Syekh Lemah Abang, Sunan Jepara dan Siti Birit. Namun demikian, ia lebih dikenal dengan nama Syekh Siti Jenar.
Masyarakat awam mengenal sosok Syekh Siti Jenar dengan pandangan yang berbeda-beda. Perbedaan ini muncul karena kehadiran Syekh Siti Jenar dalam pergumulan budaya Jawa melahirkan hal baru yang memicu polemik dan kontroversial, terutama dalam bidang sejarah, filsafat dan tasawuf yang berkaitan dengan ajarannya.
Salah satu ajaran kontroversial yang dikemukakan oleh Syekh Siti Jenar adalah manunggaling kawula gusti yang berarti bersatunya seorang hamba dengan Tuhannya. Bersatunya seorang hamba dengan Tuhannya dimaknai bersatu dalam artian jiwa, bukan secara fisik atau lahiriyah. Maknanya adalah jika Tuhan bersemayam dalam diri manusia dan manusia hakikatnya adalah dari Tuhan, melalui perasaan, penghayatan dan pemikiran, maka manusia akan mencapai hakikat bersatu dengan Tuhan.
Lebih dalam lagi, ajaran ini menegaskan bahwa setiap manusia dalam mengungkapkan ucapan atau melakukan segala perbuatannya harus senantiasa membawa sifat dan nilai-nilai Tuhan, karena dengan mengenal dan mengimplementasikan segala sifat-Nya, maka kesadaran dalam sifat-sifat Tuhan itu menjadikan manusia memiliki kemampuan menembus batas-batas fisik material dengan hatinya yang suci dan bersih.
Konsep manunggaling kawula gusti ini selain dapat ditafsirkan dalam konteks antara manusia dengan Tuhan juga dapat ditafsirkan sebagai hubungan manusia dengan manusia (sosial). Dalam konteks tersebut, manunggaling kawula gusti diartikan sebagai bersatunya rakyat dengan raja (pemimpin). Penafsiran ini mempunyai arti bahwa jika dalam tatanan sosial sudah tidak ada lagi perbedaan kelas, tidak ada perbedaan golongan, yang berarti sama rata antara raja dengan rakyat, sehingga tidak ada lagi kewajiban rakyat untuk tunduk, meyembah dan membayar upeti kepada raja.
Penafsiran tersebut kemudian menjadi polemik bagi pihak kerajaan pada saat itu, karena dianggap sangat membahayakan dan mengganggu kestabilan kerajaan baik dalam segi politik, sosial, maupun ekonomi. Oleh karena itu, pihak kerajaan yang merasa terganggu dengan ajaran yang dibawa oleh Syeh Siti Jenar kemudian melakukan berbagai cara untuk menghentikan Syekh Siti Jenar dan ajarannya agar tidak menyebar ke kalangan masyarakat luas.
Salah satu caranya adalah dengan menuduh Syekh Siti Jenar adalah orang sesat yang mengaku sebagai Tuhan. Selain itu pihak kerajaan juga menggandeng para seniman dan penulis untuk membuat serat atau narasi-narasi yang menyudutkan Syekh Siti Jenar, bahkan banyak berbagai literatur yang menuliskan jika Syekh Siti Jenar kemudian dibunuh atau dihukum mati oleh para Wali Songo karena kesesatannya. Sejatinya anggapan tersebut tidak benar. Wali Songo tidak membunuh Syekh Siti Jenar secara lahiriah atau secara fisik, namun Wali Songo membuat suatu kebijakan terhadap Syekh Siti Jenar untuk menghentikan pemikiran dan ajaran manunggaling kawula gusti. Hal ini dilakukan oleh Wali Songo karena beranggapan bahwa masyarakat awam pada saat itu belum mampu memahami dengan baik ajaran Syekh Siti Jenar yang dikhawatirkan akan mengakibatkan kesalahpahaman serta kekacauan karena ajaran tersebut.
Namun, karena waktu terus berjalan dan telah banyak serat atau tulisan-tulisan yang ditulis serta tersebar luas. Maka anggapan yang menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar merupakan orang yang sesat terus melekat dalam dalam ingatan masyarakat. Realitanya, sampai saat pun ini masyarakat tetap memandang Syekh Siti Jenar sebagai orang yang mengaku Tuhan dan membawa ajaran-ajaran yang menyesatkan. Padahal sebenarnya tidak demikian. Jadi, wajar saja jika pergumulan mengenai Syekh Siti Jenar sampai saat ini masih menjadi misteri dan mengandung kontroversi.
Oleh:
Efendi Abdillah
Pegiat Literasi, Founder Literasi Aksara, dan Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Efendi Abdillah
Pegiat Literasi, Founder Literasi Aksara, dan Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Post a Comment for "Sosialisme dalam Konsep Manunggaling Kawula Gusti Syekh Siti Jenar"
Post a Comment
Add your comment