Sejarah dan Pengaruh Kitab Tajussalatin
Meskipun tidak ditemukan lagi naskah Tajussalatin dalam kesusasteraan Persia, tetapi dengan memperhatikan bahasa dan isinya akan didapatkan petunjuk yang kuat bahwa Tajussalatin Melayu itu berasal dari naskah Persia. Petunjuk itu di antaranya yaitu:
- Terdapat kata-kata Parsi yang tidak biasa terdapat dalam karangan lain dan dipakainya suatu bentuk dzafet, suatu bentuk khusus Persia untuk kata mimbar menjadi mimbari, Umar menjadi Umari (Umari Abd al-Aziz).
- Sajak-sajak yang ada dalam Tajussalatin berbentuk sajak Persia, yaitu bentuk matsnawi, ruba’i, ghazal, dan qith’ah.
- Tajussalatin banyak didapatkan cerita-cerita yang tidak dikenal dalam sastra Melayu yang ternyata cerita itu diambil dari sastra Persia. Misalnya cerita dari buku Siar al-Muluk (biografi raja-raja) karangan Nizam al-Mulk dan cerita dari roman Persia yang terkenal tentang Mahmud dan Ayaz dari abad ke-16.
- Banyak digunakan kata shahib untuk pengertian “tuan”. Kata itu banyak dipakai di Gujarat yang banyak mendapat pengaruh Persia.
- Susunan kalimat asing bagi idiom Melayu.
Secara akademis, Bukhari al-Jauhari mengakui telah mengutip beberapa kitab yang populer saat itu. Bukhari al-Jauhari menulis kitab Tajussalatin untuk dipersembahkan kepada Sultan ‘Alauddin Ri’ayat Shah Sayyid al-Mukammil (1588-1604) sebagai sumbangan seorang ulama untuk membantu sultan menjalankan pemerintahan dengan baik menurut landasan Alquran dan Sunnah.
Tajussalatin lahir karena masalah perebutan takhta yang dihadapi oleh bangsawan Aceh pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 M. Menurut Raden Hoesein Djajadiningrat, pada masa kitab ini ditulis, Aceh sedang dilanda kemelut politik dan krisis kepemimpinan. Siddiq Fadzil membenarkan teori ini karena menurutnya terdapat syair Hamzah Fansuri yang mengungkapkan ketidakpuasan hati terhadap perilaku politik Sultan Aceh, para bangsawan dan pembesarnya yang tamak dan zalim.
Sementara itu menurut Abdul Hadi W. M., krisis yang berpanjangan ini timbul pada akhir masa pemerintahan Sultan ‘Ala al-Din Ri’ayat Syah al-Qahhar (1568-1571) yang dipicu oleh konflik di lingkungan keluarga sultan sendiri. Perang terbuka antara keluarga sultan berkobar dengan cepat. Selama beberapa bulan sesudah Sultan al-Qahhar wafat, kekacauan tidak terkendali lagi dan selama beberapa bulan itu pula Aceh diperintah oleh tiga orang sultan secara berturut-turut.
Pengaruh Tajussalatin sangat besar di Aceh maupun di luar Aceh. Di Aceh, kelahiran Tajussalatin yang hanya beberapa tahun sebelum masa keemasan Kesultanan Aceh di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda diyakini karena mengamalkan pelajaran-pelajaran yang disampaikan Tajussalatin. Pengaruh Tajussalatin di Aceh juga terlihat dengan terwujudnya hubungan yang harmonis antara raja dan rakyat, penggunaan istilah Sultan al-Adil dalam mata uang, pengangkatan Sultanah Safiatuddin sebagai sultan perempuan pertama, perintah menutup aurat bagi perempuan, pemberlakuan syariat dan lain-lain.
Sementara itu, di Alam Melayu, Tajussalatin digunakan oleh raja-raja Johor. Tajussalatin juga banyak dikutip oleh buku-buku yang dikarang sesudahnya seperti Safinatul Hukkam, dan lain-lain. Pengaruh Tajussalatin juga dapat dilihat di Jawa, yaitu dengan diterjemahkannya kitab tersebut menjadi Serat Tajussalatin. Kitab tersebut juga berulang kali dicetak dan disimpan di Jakarta, Leiden, Brussels, dan London.

Post a Comment for "Sejarah dan Pengaruh Kitab Tajussalatin"
Post a Comment
Add your comment