Kisah Inspiratif Seorang Waria
Dalam tayangan komedi, kita sering menjumpai sosok laki-laki berkarakter lemah gemulai. Mereka berpenampilan seperti perempuan dan bertingkah laku layaknya perempuan. Tingkah mereka yang menggelitik sering dijadikan sebagai bahan lelucon dan candaan. Bahkan, mereka ini terkadang kita jumpai dalam dunia nyata lho, misalnya di pusat perbelanjaan, di jalanan, maupun di lingkungan masyarakat. Dunia hiburan dan masyarakat setempat mengenal mereka ini dengan istilah waria.
Waria merupakan gabungan istilah wanita dan pria. Waria juga dikenal dengan istilah wadam yang berasal dari gabungan kata hawa dan adam.
Asal Usul Waria
Dalam kehidupan manusia dikenal 2 jenis kelamin, yaitu perempuan dan laki-laki. Disebut perempuan karena mempunyai vagina dan disebut laki-laki karena mempunyai penis. Antara perempuan dan laki-laki juga mempunyai bentuk biologis lain yang berbeda. Perbedaan ini lah yang kemudian menjadi dasar bagi masyarakat umum untuk mengindikasikan bahwa seseorang ini perempuan atau laki-laki. Seiring berjalannya kehidupan, terdapat fenomena yang lazim disebut sebagai transgender. Fenomena transgender dialami oleh seseorang yang mempunyai perasaan tidak puas terhadap jenis kelamin dan bentuk fisik dengan kondisi kejiwaannya. Seseorang yang mengalami gejala ini biasanya mengekspresikan dalam bentuk tingkah laku, cara berpakaian, gaya rambut, hingga minat dan bakatnya.
Fenomena transgender tidak terjadi begitu saja, melainkan banyak faktor yang melatar belakangi kemunculannya. Di antara faktor-faktor tersebut yaitu, kondisi biologis, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, pergaulan, dan pendidikan. Ini lah yang kemudian mendorong seseorang mengalami konflik batin dan psikologis karena kondisi fisik tidak sesuai dengan psikologis yang diinginkan. Bahkan beberapa dari mereka menganggap bahwa dirinya terperangkap dalam tubuh yang salah.
Dede Utomo dalam bukunya yang berjudul Memberi Suara Pada yang Bisu menjelaskan bahwa sudah sejak dulu Indonesia mengenal konsep percampuran antara laki-laki dan perempuan dalam satu tubuh. Konsep ini berasal dari kepercayaan dan tradisi lokal jaman Kerajaan Majapahit. Konsep ini bisa dilihat dalam patung dewa raja Ardhanari yangmana pada bagian kanan tubuhnya menunjukkan bentuk tubuh laki-laki dan bagian kiri tubuhnya menunjukkan bentuk tubuh perempuan.
Selain itu, dalam adat dan tradisi masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan dikenal istilah Bissu. Bissu merupaka seorang pendeta yang tidak mempunyai golongan gender dan dianggap separuh manusia dan separuh dewa. Dalam masyarakat setempat bissu dianggap sebagai penghubung antara manusia dengan leluhur. Posisi Bissu mengalami pergeseran ketika terjadi pemberontakan DI/TII yang melarang dan menghapuskan segala hal yang dianggap musyrik bagi umat Islam.
Sementara itu, dalam kesenian Reog Ponorogo dikenal istilah Gemblak, seorang anak laki-laki berusia antara 11-15 tahun yang dirias layaknya seorang perempuan. Kehadiran Gemblak berkaitan dengan upaya pencapaian ilmu kesaktian yang dilakukan seorang Warok dengan puasa perempuan. Karena itu, untuk menyalurkan hasrat seksualnya dialihkan kepada Gemblak. Meskipun demikian, hubungan yang dibangun antara keduanya seperti orang tua dengan anak. Warok juga memberikan akses dan fasilitas pendidikan, pengembangan minat dan bakat kepada Gemblak. Saat ini, istilah Gemblak dalam kesenian Reog Ponorogo sudah tidak ada, sebab tokoh-tokoh agama setempat melarang keberadaannya.
Keberadaan Waria Sebagai Kelompok Pinggiran
Keberadaan kelompok waria memunculkan sisi positif dan negatif dalam kehidupan. Tanggapan positif muncul karena pemikiran terbuka dari masyarakat, sehingga mampu menerima keberadaan kelompok waria. Sedangkan, tanggapan negatif muncul karena anggapan masyarakat yang memandang waria sebagai orang yang cacat tubuh dan berpengaruh terhadap cacatnya jiwa. Masyarakat juga menganggap jika waria mengidap sosial disorder dan bertentangan dengan ajaran agama, sosial, budaya, dan hukum dalam masyarakat setempat.
Pandangan-pandangan negatif yang dilekatkan kepada kelompok waria tersebut berpengaruh dalam kehidupan sosial dan keagaan mereka. Kelompok waria mengalami kesulitan menjalankan kegiatan keagamaanmereka. Padahal waria juga manusia yang butuh akan spiritualitas. Sementara itu, dalam bidang sosial masyarakat kelompok waria cenderung dikucilkan dengan berbagai stigma yang dilekatkan kepadanya. Akibatnya, kelompok waria kesulitan untuk bisa hidup berdampingan dengan masyarakat, bahkan untuk mencari pekerjaan sangat sulit bagi mereka. Tanpa disadari stigma masyarakat yang dibangun atas dasar nilai-nilai agama dan sosial telah menempatkan kelompok waria pada ruang marjinal dan bahkan tidak lagi memanusiakan.
Upaya Waria Menyambung Hidup
Pada tahun 2008, telah berdiri pondok pesantren waria yang terletak di Yogyakarta. Pondok pesantren ini didirikan untuk mewadahi kelompok waria yang ingin belajar agama dan mengubah nasib hidupnya. Bagaimanapun juga, menjadi waria bukanlah suatu keinginan dari orang yang bersangkutan. Waria tetaplah sama seperti manusia lainnya yang membutuhkan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Dalam pondok pesantren ini, waria diberikan pembelajaran dan pemahaman mengenai ajaran-ajaran agama. Tata cara membaca al-Qur’an, menjalankan ibadah sholat, dan bersuci. Para waria sangat antusias mengikuti kegiatan ini dan pesertanya semakin bertambah setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya waria sangat butuh dengan siraman spiritualitas.
Tidak hanya itu saja, waria juga diberi pembekalan dan pelatihan untuk meningkatkan keahliannya. Ada pelatihan memasak, menari, dan lain sebagainya. Adanya pelatihan ini membantu para waria untuk memutus mata rantai pekerjaan kurang baik yang pernah dilakukan sebelumnya. Adanya pelatihan ini membantu waria untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih produktif untuk menyambung kehidupan lebih baik.
Adanya pondok pesantren ini sangat membantu waria untuk menjalani hidup lebih terarah sesuai ajaran dan tuntunan agama. Penting untuk digaris bawahi bahwa para waria mempunyai tekad dan semangat untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Mereka tidak selamanya berada dalam kehidupan yang kelam, akan tetapi mereka berupaya untuk menemukan jati dirinya, menjadi pribadi yang lebih baik, dan bermanfaat untuk agama dan sesamanya.




Post a Comment for "Kisah Inspiratif Seorang Waria"
Post a Comment
Add your comment