Bunda Teresa: Kisah Pejuang Aktivis Kemanusiaan
5 September 1997, penerima Nobel Perdamaian, bunda Teresa wafat di usia ke 87 tahun. Bunda Teresa merupakan seorang Biarawati Katholik Roma yang mempunyai darah keturunan Albania dan berkewarganegaraan India. Bunda Teresa mendirikan Misionaris Cinta Kasih atau Missionaries of Charity di Kolkata, India, pada tahun 1950. Selama hidupnya, bunda Teresa mengabdikan dirinya untuk membantu orang sakit, orang miskin dan orang terlantar, serta menjalankan misi kemanusiaan di beberapa negara. Atas jasanya itu, bunda Teresa diberkati oleh Paus Yohanes Paulus 2 dan menerima gelar Beata Teresa de Kalkota.
Masa Kecil Bunda Teresa
Bunda Teresa lahir pada tanggal 26 Agustus 1910 dengan nama lengkap Agnes Gonxha Bojaxhiu. Ia dilahirkan di Skopje. Ayahnya bernama Nicholas Bojaxhiu, seorang pengusaha dan politikus. Sedangkan ibunya, Drana, adalah seorang penjahit.
Teresa merupakan putri bungsu dari tiga bersaudara, kedua kakaknya bernama Aga dan Lazare. Teresa kecil ditinggal ayahnya saat berusia 7 tahun. Meninggalnya sosok kepala keluarga ini secara tidak langsung berdampak pada kondisi finansial keluarga Teresa. Meskipun demikian, ibunda Teresa tak patah semangat. Justru ibunda Teresa mengambil peran sang ayah sebagai kepala keluarga. Ibunda Teresa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Sejak kecil, Teresa sudah dekat dengan dunia keagamaan. Ia sering datang ke gereja untuk berdo’a, menyanyi dan membaca. Saat menginjak dewasa, ia bergabung dengan anggota jemaat pemuda di gereja yang disebut Sodality. Dari sini lah, ia mulai tertarik dengan dunia misionaris.
Menerima Panggilan di Atas Panggilan
Pada usia 18 tahun, Teresa meneguhkan hati dan bertekad untuk menjadi misionaris. Ia pergi ke India dan melaksanakan panggilan hatinya. Ia bergabung dengan Institute of the Blessed Virgin Mary yang dikenal degan nama Sisters of Loretto pada tahun 1928. Ia mengabdikan diri dan mengikrarkan kaul atau sumpah setia kepada Kristus dan memilih panggilan barunya dengan nama Teresa.
Nama tersebut Teresa pilih karena ia ingin menghormati Santa Teresa Lisieuix yang dikenal shaleh dan berani menghadapi rasa sakit serta meninggal saat usia muda. Dengan nama tersebut, ia sepenuhnya percaya untuk menyerahkan diri pada Tuhan, bahkan ia menyebut dirinya sendiri sebagai “sepotong pensil di tangan Allah”.
Untuk menjadi biarawati, Teresa harus belajar bahasa Inggris dan menempuh pendidikan sebagai seorang biarawati. Selama satu tahun menempuh pendidikan, akhirnya Teresa ditugaskan untuk mengajar di St. Mary High School di Kalkota. Keteguhan Teresa menjadi seorang pengajar, kemudian mengantarkannya menjadi kepala sekolah di St. Mary High School pada tahun 1944.
Menjadi seorang pengajar tak lantas menjadikan Teresa tenang, justru ia merasa sedih melihat kondisi masyarakat sekitar. Mereka tinggal di daerah kumuh, sebagian mereka terlantar dan sebagiannya lagi sakit-sakitan.
10 September 1946, Terasa mendengar sebuah bisikan yang kemudian ia sebut sebagai panggilan di atas panggilan. Bisikan ini berisi perintah untuk “meninggalkan segalanya dan mengikuti Dia ke daerah kumuh agar dapat melayani Dia di antara orang-orang miskin dan terlantar”.
Untuk memenuhi panggilan tersebut, Teresa memohon izin kepada pihak Vatikan untuk memenuhi panggilan keduanya. Pihak Vatikan pun mengizinkan Teresa untuk meninggalkan Biara Loretta demi tinggal bersama penduduk di Kalkota. Pada tahun 1948, Teresa bersama-sama dengan masyarakat setempat memulai mengabdikan dirinya untuk membantu merawat orang sakit, dan orang terlantar. Bahkan, Teresa juga membuka sekolah dan mengajar anak-anak jalanan.
Jasa Bunda Teresa
Pengabdian Teresa membuahkan keberhasilan yang ditandai dengan didirikannya kongregasi, yang dalam agama Katholik diartikan sebagai perkumpulan para biarawan atau biarawati yang mempunyai tujuan pelayanan pendidikan, kesehatan, atau pelayanan lainnya. Kongregasi yang didirikan Teresa pada tahun 1950 itu bernama Kongregasi Misionaris Cinta Kasih atau Missionaries of Charity.
Selain mendirikan Missionaries of Charity, Teresa juga mendirikan tempat-tempat untuk menampung dan merawat orang-orang miskin. Di antara tempat-tempat tersebut yaitu:
- Gandhiji Prem Nivas di Titagarh, Kalkota. Bangunan ini diperuntukkan orang-orang sakit, tuna wisma dan orang miskin. Bangunan ini terletak di sepanjang rel kereta api yang dicat dengan warna warni. Bangunan ini terdiri dari ruang perawatan, klinik bangsal dan sekolah. Di tengah-tengah bangunan ini berdiri patung Mahatma Gandhi.
- Shishu Balvan di Kalkota. Bangunan ini diperuntukkan anak-anak yatim piatu, orang terlantar dan mengalami cacat fisik. Selama di sini, mereka dirawat dan diberi akses untuk mendapatkan pendidikan.
- Nirmal Hriday di Kalkota. Bangunan ini diperuntukkan orang-orang yang hendak menghadapi kematian. Dalam bangunan ini terdiri dari ruang perawatan, ruang operasional, dan ruang mayat. Bangunan ini disebut juga Rumah Hati Yang Suci.
Pada tahun selanjutnya, yayasan yang didirikan Teresa mengalami perkembangan. Teresa mengembangkan aktivitas kemanusiaannya ke berbagai negara. Atas jasa dan perjuangannya, Teresa memperoleh berbagai penghargaan. Salah satu penghargaan yang paling penting adalah Nobel Perdamaian yang diterimanya pada tahun 1979.
Akhir Sebuah Perjalanan
Teresa memilih jalan hidup seperti ini karena semata-mata ingin mengabdikan hidupnya kepada Kristus. Teresa mendapatkan panggilan dari Kristus untuk melayani-Nya, sedangkan Kristus menurut Teresa “Dia berada di antara orang miskin dari yang miskin”. Oleh karena itu, Teresa membantu orang sakit, orang miskin dan orang terlantar sebagai wujud cintanya kepada Kristus. Teresa ingin lebih dekat dengan Kristus dan berupaya menjumpai-Nya dengan jalan berdoa dan menjalani kehidupannya sebagai pelayan orang-orang miskin.
Memasuki usia lanjut, kesehatan Teresa mulai melemah. Ia menghembuskan nafas terakhir pada 5 September 1997. Dalam rangka menghormati jasa dan perjuangan Teresa, berbagai petinggi dari 23 negara menghadiri pemakamannya yang digelar pada 13 September 1997.
Dunia mengenang jasa dan perjuangan Teresa sebagai sosok manusia yang suci. Untuk itu, pada tahun 2003, Paus Yohanes Paulus 2 memberinya gelar Beata. Sebuah pengakuan yang diberikan gereja kepada orang yang telah meninggal untuk menyatakan bahwa orang tersebut telah berbahagia di alamnya. Biasanya, beatifikasi diberikan kepada orang yang telah bekerja keras untuk kebaikan. Orang yang mendapat beatifikasi diberi gelar “beato” untuk lak-laki dan “beata” untuk perempuan.
Minggu, 4 September 2016, Paus Fransiskus menobatkan bunda Teresa sebagai seorang Santa atau orang suci dalam perayaan misa di lapangan Santo Petrus, Vatikan.


Post a Comment for "Bunda Teresa: Kisah Pejuang Aktivis Kemanusiaan"
Post a Comment
Add your comment