Agama Sebagai Salah Satu Unsur Kebudayaan
Kepercayaan merupakan produk manusia sebagai homo religius. Manusia memiliki kecerdasan pikiran dan perasaan luhur, mempercayai akan adanya kekuatan di atas dirinya yang maha besar. Oleh karena itu, manusia merasa takut dan kemudian menyembahnya, sehingga lahirlah kepercayaan yang sekarang menjadi agama.
Terdapat beberapa unsur dalam pengertian kepercayaan ini, antara lain kepercayaan terhadap kekuatan gaib yang lebih tinggi dari manusia, berbagai hal yang dilakukan manusia untuk berkomunikasi dan mencari hubungan dengan kekuatan lain, dan bentuk-bentuk kepercayaan kuno sampai pada kemunculan agama.
Sistem kepercayaan dalam lingkup budaya suatu masyarakat memiliki tiga unsur utama yaitu sistem keyakinan, sistem upacara keagamaan dan umat penganut kepercayaan. Dalam sistem keyakinan, gagasan, pelajaran, aturan agama, dongeng suci atau riwayat suci tercantum dalam suatu himpunan buku-buku suci yang biasa juga dianggap sebagai kesusastraan. Unsur kepercayaan jika dijabarkan sebagai berikut:
- Emosi keagamaan, yaitu kekuatan yang menggerakkan jiwa manusia untuk melakukan kegiatan keagamaan dan merupakan pusat dari segala konsep kepercayaan yang diyakini manusia.
- Sistem keyakinan, merupakan wujud nilai-nilai tentang keyakinan dan konsep manusia akan sifat-sifat Tuhan, alam gaib, kejadian-kejadian alam, kekuatan sakti serta makhluk halus.
- Sistem ritus dan upacara, merupakan tindakan manusia dalam kegiatan keagamaan yang resmi diketahui masyarakat, setidaknya oleh kelompok keagamaan.
- Umat agama, yaitu kelompok yang meyakini dan melaksanakan ajaran agama. Seperti, keluarga, kelompok kekerabatan, komunitas dan perkumpulan-perkumpulan khusus.
Para ahli antropologi mengemukakan, paling sedikit ada 8 bentuk kepercayaan di dunia:
- Fetisism, yaitu bentuk kepercayaan yang berdasarkan adanya jiwa dalam bentuk benda-benda tertentu dan terdiri dari aktivitas-aktivitas keagamaan untuk memuja benda-benda. Misalnya, Simegere di Mentawai.
- Animisme, yaitu bentuk kepercayaan yang berdasarkan bahwa alam sekeliling tempat tinggal manusia dihuni berbagai macam ruh.
- Animatism, merupakan suatu sistem kepercayaan yang berdasarkan bahwa benda-benda serta tumbuh-tumbuhan memiliki jiwa dan dapat berfikir seperti manusia. Kepercayaan itu tidak menyebabkan adanya kegiatan keagamaan, walaupun dapat menjadi unsur dalam suatu kepercayaan.
- Prae-animism (dynamism), yaitu bentuk kepercayaan yang berdasarkan pada kekuatan besar yang ada dalam segala hal yang luar biasa.
- Totemism, yaitu bentuk kepercayaan yang terdiri dari kelompok-kelompok kekerabatan dari garis satu garis keturunan saja, baik ibu atau bapak, yang didasarkan berasal dari para dewa dan leluhur. Kegiatan-kegiatan keagamaan dilakukan untuk memuja mereka serta mempererat kesatuan dalam kelompok tersebut. Setiap kelompok mempunyai lambangnya (totem) sendiri dapat berupa jenis hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala alam atau benda yang melambangkan dewa leluhur kelompoknya. Contoh, suku-suku di Irian dengan tiang, atau sapi merupakan totem bagi umat Hindu India.
- Polytheism, yaitu sistem kepercayaan yang didasarkan adanya suatu hierarki dewa-dewa dan terdiri dari upacara-upacara untuk memuja para dewa.
- Monotheism, yaitu kepercayaan yang didasarkan pada adanya satu dewa, yaitu Tuhan. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan upacaranya bertujuan untuk memuja Tuhan.
- Mystic, yaitu bentuk kepercayaan yang didasarkan pada kepercayaan satu Tuhan yang dianggap menguasai seluruh alam semesta dan terdiri dari upacara-upacara yang bertujuan untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan tersebut.
Dalam banyak agama, manusia berupaya untuk mendekatkan dirinya pada Tuhan (pantheism). Tetapi ada konsep bahwa manusia bisa menjadi satu dengan Tuhan berdasarkan prinsip bahwa segala hal di dunia ini, termasuk manusia dan lingkungannya, adalah bagian dari Tuhan (monism).
Fungsi Kepercayaan
- Fungsi Edukatif. Meliputi peran pengajaran dan memberi bimbingan. Dalam hal ini, agama dianggap sangggup memberikan pengajaran yang benar, bahkan dalam hal-hal yang sakral. Agama menyampaikan ajarannya melalui perantara; upacara keagamaan, khotbah, renungan, pendalaman rohani maupun di luar perayaan liturgis (ibadah umum).
- Fungsi Penyelamatan. Agama mengajarkan keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Untuk mencapai keselamatan tersebut agama mengajarkan cara tersendiri.
- Fungsi Pengawasan Sosial. Masing-masing agama mempersatukan umatnya yang berbeda ras, suku dan kebudayaan. Perilaku umat yang berbeda tersebut disamakan dalam ajaran agama dan ritualitas, sehingga mampu memupuk persaudaraan dan akan saling menjalankan fungsi pengawasan. Jika nilai kebaikan agama benar-benar dilaksanakan dalam kehidupan akan dapat meningkatkan kesejahteraan manusia.

Post a Comment for "Agama Sebagai Salah Satu Unsur Kebudayaan"
Post a Comment
Add your comment