Sosok Penyelamat Bendera Pusaka

 

Sosok Penyelamat Bendera Pusaka

Dari yakinku teguh, Hati ikhlasku penuh, Akan karunia-Mu, Tanah air pusaka, Indonesia Merdeka, Syukur aku panjatkan, Kehadirat-Mu Tuhan. Penggalan lirik lagu di atas menunjukkan bagaimana cinta dan keikhlasan berada pada garda terdepan. Cinta dalam konteks ini adalah cinta akan tanah air. Rakyat Indonesia rela berjuang bahkan sampai titik darah penghabisan untuk mengusir penjajah yang membelenggu kehidupan. Upaya dan kesungguhan yang disertai doa pada akhirnya membuahkan hasil yang patut disyukuri. Syukur kepada Tuhan atas karunia-Nya rakyat Indonesia berhasil memperoleh kemenangan dan kemerdekaan.

Penggalan lirik lagu di atas secara tidak langsung mengingatkan kita kepada perjuangan bangsa Indonesia dalam memperoleh kemerdekaan. Selain itu, lagu tersebut menjadi lagu wajib yang dinyanyikan pada upacara hari kemerdekaan. Lalu, apakah teman-teman tahu siapa pencipta lagu tersebut?

Biografi Singkat Husein Mutahar
Husein Mutahar dikenal sebagai pencipta lagu syukur sebagaimana penggalan liriknya telah disebutkan di atas. Husein mempunyai nama lengkap Muhammad Husein Mutahar. Husein dilahirkan pada tanggal 5 Agustus 1916 di Semarang, Jawa Tengah.

Dilansir dari en.m.wikipedia.org disebutkan bahwa Husein memulai pendidikan pertamanya selama 7 tahun di ELS. Selain belajar di sekolah umum, Husein belajar ilmu Alquran kepada seorang guru perempuan bernama Encik Nur. Setelah lulus dari ELS, Husein melanjutkan sekolah di MULO. Selama di sini, Husein juga belajar ilmu agama kepada Kyai Saleh di Semarang. Setelah lulus dari MULO, Husein melanjutkan sekolah di AMS.

Setelah lulus dari AMS, Husein Mutahar berkiprah ke dalam dunia militer dan politik. Husein juga dikenal sebagai tokoh yang sangat berjasa bagi bangsa Indonesia. Perjuangan dan peranannya baik sebelum kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan tidak dapat dipandang sebelah mata. Bagaimanapun, Husein merupakan penyelamat bendera pusaka merah putih ketika terjadi agresi militer II di Yogyakarta. Berikut peran dan perjuangan Husain Mutahar.

Agresi Militer II
Pada tanggal 19 Desember 1948 pasukan Belanda tiba di lapangan penerbangan Maguwo, Yogyakarta. Pasukan Belanda terdiri dari 63.000 KNIL dan beberapa kekuatan tambahan, sehingga jumlah kesuluruhan mencapai 140.000 orang. Mendengar informasi ini, Presiden Soekarno segera mengirim pesan kepada Syafruddin Prawiranegara untuk mendirikan pemerintahan darurat di sana.

Di samping itu, pasukan Belanda terus bergerak ke wilayah Ibukota dan mengepung Gedung Agung Keraton Yogyakarta. Sementara itu, pasukan Keraton Yogyakarta telah siap siaga meskipun jumlah mereka lebih sedikit dibandingkan dengan pasukan Belanda. Karena kalah jumlah, Presiden Soekarno yang melihat kondisi ini segera memerintahkan pasukan Keraton Yogyakarta untuk meletakkan senjata dan mengibarkan bendera putih.

Dalam kondisi yang mendesak dan sebelum pasukan Belanda menduduki Gedung Agung Keraton Yogyakarta, Presiden Soekarno dengan segera memanggil ajudannya, Husein Mutahar, untuk menyelamatkan Bendera Merah Putih. Sebagaimana diungkapkan Cindy Adams dalam bukunya yang berjudul Penyembung Lidah Rakyat, Presiden Soekarno berpesan sebagai berikut:

“Dengan ini, aku memberikan tugas kepadamu pribadi, untuk menjaga Bendera kita dengan nyawamu, ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika Tuhan mengizinkannya engkau mengembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapapun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andai kata engkau gugur dalam menyelamatkan bendera pusaka ini, percayakanlah tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkannya ke tanganku sendiri sebagaimana engkau menjalankannya.”

Tidak lama setelah itu, pasukan Belanda memasuki Gedung Agung Keraton Yogyakarta dan menangkap Presiden Soekarno. Selang beberapa waktu berikutnya, Husein Mutahar juga ikut ditangkap. Presiden Soekarno menjadi tahanan rumah, sedangkan Husein Mutahar direncanakan akan dibawa ke Jakarta.

Perjuangan Menyelamatkan Bendera Pusaka
Dalam kondisi yang mencekam itu, Husein Mutahar berpikir keras bagaimana caranya menyelamatkan bendera pusaka. Husein menemukan sebuah ide untuk memisahkan kedua kain bendera pusaka dengan melapas jahitan yang menghubungkan antara benang merah dan benang putih. Dengan cara demikian, Husein percaya jika Belanda tidak akan mengenali bendera pusaka.

Tidak hanya itu saja, Husein menyimpan kain bendera pusaka di tempat yang berbeda. Husein meletakkan kain bendera berwarna merah di dasar tasnya, sedangkan kain bendera berwarna putih di tas yang lain. Dengan cara demikian, Husein semakin percaya jika Belanda tidak akan mengenali jika itu bagian dari bendera pusaka. Mereka pasti akan mengira jika itu hanya kain biasa saja.

Momentum Kembalinya Bendera Pusaka
Sesampainya di Jakarta, Husein Mutahar tinggal di rumah milik R. Said Soekanto Tjokrodiatmojo, seorang Kepala Kepolisian RI. Selama tinggal di sini, Husein tidak hanya diam saja. Husein berusaha mencari informasi mengenai kondisi Yogyakarta dan lebih utamanya kondisi Presiden Soekarno.

Mengutip dari Bulletin Paguyuban Paskibraka Nasional 1978 disebutkan pada pertengahan bulan Juni, Husein mendapat kabar dari Sudjono bahwa ada surat dari Presiden Soekarno untuknya. Surat itu berisi perintah pengembalian bendera pusaka kepada Presiden Soekarno melalui Sudjono. Presiden menginginkan agar Sudjono yang mengantarkan bendera pusaka kepadanya di Bangka. Alasannya adalah:
  1. Strategi menjaga kerahasiaan perjalanan bendera pusaka dari Jakarta ke Bangka.
  2. Hasil kesepakatan perundingan dengan Belanda yang diawasi oleh UNCI (United Nation Committee for Indonesia) yaitu Presiden Soekarno hanya boleh dikunjungi oleh anggota delegasi Republik Indonesia yang hadir dalam perundingan tersebut. Dalam hal ini, Sudjono termasuk delegasi dari Republik Indonesia.
Setelah mengetahui isi surat tersebut, Husein segera menjahit kembali bendera pusaka dan diserahkan kepada Sudjono. Dengan diserahkannya bendera pusaka kepada Sudjono, maka usai sudah tugas Husein untuk menyelamatkan bendera pusaka yang merupakan amanat Presiden Soekarno kepadanya.

Bendera Pusaka kembali ke Ibukota Yogyakarta
Pasca serangan umum 1 Maret 1949, pihak Indonesia dan Belanda melakukan perundingan. Pada 7 Mei 1949, pihak Indonesia diwakili oleh Muhammad Roem dan pihak Belanda diwakili oleh Van Royen melakukan perundingan yang tercatat dalam sejarah sebagai Perundingan Roem-Royen. Perundingan ini menghasilkan kesepatakan bahwa pihak Belanda bersedia menarik mundur seluruh pasukannya. Selain itu, Presiden Soekarno dikembalikan ke Ibukota Yogyakarta pada 30 Juni 1949.

Kemudian, pada tanggal 1 Agustus 1949, Presiden Soekarno mengumumkan adanya genjatan senjata dan pemerintahan akan berjalan sebagaimana biasanya. Mendengar kabar ini, Husein turut kembali ke Yogyakarta. Kembalinya Husein ke Yogyakarta di kemudian hari mendapat tugas penting untuk mengatur pelaksanaan upacara kemerdekaan Republik Indonesia. Pada waktu ini, Husein membentuk pasukan khusus pengibar bendera pusaka yang kemudian sampai saat ini kita kenal dengan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA).

Post a Comment for "Sosok Penyelamat Bendera Pusaka"