Review Buku Suara Perempuan Korban Tragedi '65


Suara Perempuan Korban Tragedi '65 merupakan karya seorang sejarawan asal Yogyakarta bernama Ita Fatia Nadia. Buku ini diterbitkan oleh Galang Press pada tahun 2009. 

Gerwani dengan PKI
Gerwani merupakan organisasi yang lahir tahun 1950 di Semarang. Pada mulanya organisasi ini bernama Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sedar) dan merupakan organisasi kader.Gerwis kemudian berubah nama menjadi Gerwani pada kongres ke II dan menjadi organisasi massa. Setelah menjadi organisasi massa Gerwani memiliki hubungan yang erat dengan PKI (Partai Komunis Indonesia), tahun 1960 Gerwani ikut andil dalam aksi BTI (Barisan Tani Indonesia) dalam tuntutan pelaksanaan undan-undang land reform. Dalam waktu yang bersamaan, Gerwani juga mulai aktif dalam perpolitikan untuk memperjuangkan hak-hak politik perempuan. 

Politik Seksual dan Orde Baru Presiden Soeharto
Pada tahun 1965 terjadi kenaikan inflasi yang berdampak pada tingginya tingkat kemiskinan. Hal tersebut berdampak juga pada menegangnya hubungan pimpinan AD, kelompok agama yang konservatif dan PKI. Dalam suasana ini beberapa perwira menengah AD malancarkan putsch militer yang menyebabkan meninggalnya enam jenderal dan satu letnan yang dimasukan ke dalam sumur. Cerita kematian jenderal tersebut dimanipulasi menjadi pembunuhan, sehingga terdapat dugaan bahwa anggota Gerwani memiliki keterlibatan. Dugaan ini didasarkan pada posisi Gerwani yang tidak lain adalah underbow PKI. Gerwani dituduh melakukan penyiksaan dengan cara mata para korban dicongkel dan penisnya dipotong. Cerita yang dibangun demikian memiliki arti penting yaitu untuk menyebarkan teror seksualitas perempuan dan manipulasi kesadaran beragama yang berdampak pada pembunuhan massal anggota PKI dan underbow-nya.

Politik seksual menjadi dasar pembangunan rezim Orde Baru. Politik seksual berkaitan dengan aturan tentang moral, seksual, simbol, budaya dan politik, individu, keluarga dan bangsa. Kemudian melahirkan pola pikir yang sangat patriarki dan keluarga dibangun atas kekuatan maskulin yang berlebihan. Rezim Suharto berusaha menghidupkan memori khayalan tersebut dengan membangun Museum Penghianatan PKI ditempat para jenderal dibunuh. Ditempat yang sama juga berdiri sebuah monumen yang diberi nama Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya. 

Kandungan Isi Buku
Buku ini memuat 10 kisah perempuan yang pernah ditangkap tahun 1965. Walau hanya segelintir korban yang diuraikan kisahnya, namun kita dapat mengetahui dengan jelas apa sebab mereka ditangkap dan bagaimana mereka diperlakukan sebagai tahanan. Perempuan-perempuan tersebut berasal dari latar belakang dan profesi yang berbeda-beda. Selama ditahan dan sampai hari mereka dibebaskan, mereka tidak pernah dibawa kepersidangan atas tuduhan penahanannya. Perempuan-perempuan tersebut setelah ditahan diinterogasi sepanjang malam dilengkapi dengan berbagai perlakuan yang tidak senonoh. Mereka menerima kekerasan fisik dan psikis sehingga banyak yang cacat mental maupun fisik. 

Setelah dibebaskan, mereka tidak benar-benar bebas dan menjadi merdeka. Akan tetapi, mereka tetap menjadi budak seks dari para pejabat tahanan dengan dalih eks-tapol tidak boleh pergi keluar dari daerah asalnya karena ada wajib lapor setiap berapa bulan sekali, bahkan di antara mereka ada yang tidak mendapat KTP. Selain itu, mereka juga menerima hukuman sosial yang berupa diskriminasi dari keluarga, masyarakat dan tanpa perlindungan dari pemerintah daerah tempat mereka tinggal. 

Dampak dari semua itu di antaranya ialah mayoritas dari mereka mengaburkan identitas diri dan mengganti dengan identitas baru. Karena sangat trauma dari penyiksaan yang telah dilakukan oleh petugas tahanan. Lebih mengerikan lagi ketika kemudian mereka memilih untuk menjadi lesbian, karena mereka merasa jijik dengan laki-laki. 

Kelebihan dan Kekurangan Isi Buku
Buku ini disajikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Dalam buku ini, penulis melakukan penelitian menggunakan metode oral history dan berusaha mengungkap perlakuan seperti apa yang diterima oleh perempuan-perempuan yang ditangkap dengan tuduhan terlibat peristiwa 30 September 1965. Metode oral history juga menjadi salah satu cara untuk memecah kebisuan dan menciptakan ruang sejarah. 

Pembahasan peristiwa perempuan-perempuan yang menjadi korban tragedi '65 kurang dianalisis lebih mendalam. Untuk itu perlu ditambahkan analisis guna mempertajam pembahasan. Buku ini bisa ada dan sampai ketangan pembaca tentunya membutuhkan banyak pengorbanan baik dari penulisnya maupun perempuan yang sudah menjadi korban. Perempuan-perempuan tersebut telah bersedia menyelami kembali masa lalunya untuk bisa menyampaikan peristiwa yang mereka lalui. Padahal, itu bukan hal yang mudah. 

Oleh karena itu, buku ini penting untuk diapresiasi dan dibaca oleh kalangan akademis dan masyarakat umum. Melalui buku ini masyarakat bisa memahami banyak hal yang berkaitan dengan peristiwan 30 September 1965 juga dapat mengetahui fakta atas tuduhan yang ditujukan pada anggota PKI dan organisasi lain yang berkaitan. Untuk lebih mudah memahami sejarah yang berkaitan dengan pembahasan dalam buku ini pembaca bisa lebih dahulu membaca buku Gerwani Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan. Buku tersebut cukup bagus menjadi pijakan awal untuk memahami sejarah organisasi yang dikatakan terlibat gerakan 30 September 1965.

Oleh: Raodah
Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Post a Comment for "Review Buku Suara Perempuan Korban Tragedi '65"