Review Buku Benturan Budaya Islam: Puritan dan Sinkretis
Penulisan buku ini berangkat dari konsep Geerts yang menjelasakan bahwa agama merupakan bagian sistem kebudayaan. Geerts memandang agama sebagai pola untuk melakukan tindakan dan menjadi sesuatu yang hidup dalam diri manusia yang diwujudkan dalam kehiduapan keseharian yang dijadikan kerangka berpikir manusia. Praktik keagamaan digambarkan Geerts sebagai suatu kebudayaan yang kompleks. Ia merujuk pada banyaknya variasi dalam upacara, pertentangan dalam kepercayaan, dan konflik-konflik nilai yang muncul sebagai akibat perbedaan tipe golongan sosial. Oleh karena itu, ia memilah golongan masyarakat Jawa menjadi tiga tipe, yaitu abangan, santri, dan priayi.
Kajian dalam buku ini berupaya memperlihatkan perubahan sosial kalangan masyarakat petani yang kini beralih menjadi kelompok santri. Lokasi penelitiannya berada di Kecamatan Trucuk, Klaten. Berbeda dengan studi Geerts yang menyatakan bahwa gerakan Islam puritan kesulitan untuk berkembang di kalangan masyarakat petani. Kajian ini menemukan keanekaragaman kebudayaan Islam yang mencerminkan adanya golongan sosial yang diperkuat dengan kecenderungan memegang identitas sosial masing-masing. Sebagaimana telah disebutkan bahwa masyarakat petani abangan sinkretis-puritan berubah menjadi puritan-radikal.
Kehadiran buku ini berupaya memberikan interpretasi level nilai yang berbeda pada masyarakat petani abangan sinkretis dan puritan radikal. Perbedaan pola tindakan dan interpretasi tersebut tercermin dalam kehidupan sosial keagamaan masyarakat Trucuk, Klaten. Sistem budaya yang dibawa oleh kelompok petani abangan sinkretis adalah sistem budaya yang menggambarkan percampuran antara budaya Islam dengan budaya lokal. Seperti tahlilan, yasinan, mencari hari baik dan nyadran.
Sementara itu, sistem budaya yang dibawa oleh kelompok petani puritan adalah sitem budaya yang menginginkan kembalinya sistem kehidupan beragama Islam yang otentik dengan cara menggali sumber teks suci Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad yang diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sistem ini bertujuan untuk menolak praktik takhayul, bid’ah dan khurafat sebagai bentuk penolakan praktik Islam sinkretik.
Keanekaragaman budaya, ras, suku bangsa, etnis dan golongan di Indonesia adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dielakkan. Pada tingkat tertentu keanekaragaman ini menimbulkan batasan-batasan sosial serta perbedaan-perbedaan yang menimbulkan ketegangan sosial. Demikian halnya dengan masyarakat Trucuk, Klaten. Gerakan Islam puritan terus berupaya menyebarkan pengaruhnya kepada Islam sinkretis.
Pada tahap awal kajian ini ditemukan aktivitas budaya di makam keramat yaitu makam Sunan Tembayat di Kecamatan Bayat, makam Ki Ageng Gribig di Jatinom dan makam Raden Ronggowarsito di Trucuk. Aktivitas di makam tersebut ditentang oleh para pendukung Islam puritan. Sekitar sepuluh tahun silam tercatat terjadi bentrokan kedua kelompok. Salah satu peristiwa tercatat adalah penyerangan makam Sunan Pandanaran pada tanggal 1 Suro tahun 1933 yang dilakukan oleh pemuda puritan karena menganggap makan tersebut penyebab terhambatnya penyebaran Islam puritan di Bayat, Klaten.
Selain itu, terjadi pergeseran pelaksanaan tradisi tahunan Yaqowiyyu atau sebaran Apem yang dilaksanakan di makam keramat Ki Ageng Gribig (berada pada kompleks masjid Ageng Jatinom). Pelaksanaan yang semula berada di kompleks masjid Ageng ini kemudian dipindahkan ke lembah sungai. Perubahan ini terjadi setelah takmir masjid dipegang oleh kalangan Muhammadiyah Jatinom yang menggap suci serambi masjid dan tidak boleh untuk penyebaran Apem. Sebab, tradisi Yaqowiyyu atau sebaran Apem dianggap sebagai ritual mencari berkah kalangan sinkretis.
Peristiwa serupa terjadi di makam Ronggowarsito di desa Palar, Trucuk, Klaten. Ketika desa tersebut dihuni oleh kalangan LDII dan Muhammadiyah menentang keras budaya ziarah kubur terlebih memakai kemenyan dan sesaji. Konflik berlatar budaya sering terjadi antara kalangan tua dengan kalangan muda yang menentang praktik tahlilan, yasinan dan selamatan.
Kedatangan gerakan puritan yang dipelopori oleh Muhammadiyah pada tahun 1930 menyebabkan sering terjadi benturan budaya antara kelompok sinkretis dengan kelompok puritan. Akibatnya, masyarakat petani terbelah ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok pendukung gerakan puritan dan petani sinkretis. Dengan demikian, terjawab sudah apa yang menjadi latar belakang dilakukannya kajian ini.
Oleh: Agus Triyanta
Mahasiswa Magister Sejarah Peradaban Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Post a Comment for "Review Buku Benturan Budaya Islam: Puritan dan Sinkretis"
Post a Comment
Add your comment