Perdebatan Dua Golongan Mengenai Teks Proklamasi

Perdebatan Dua Golongan Mengenai Teks Proklamasi

Sejarah mencatat pada tanggal 6 Agustus 1945 telah terjadi peristiwa besar yang ditandai dengan jatuhnya bom atom di Hiroshima. Dalam peristiwa ini, Amerika Serikat jelas menjadi negara yang harus bertanggung jawab, sebab Amerika Serikat merupakan negara pertama dan satu-satunya yang menggunakan senjata bom atom selama masa perang. 

Bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima memiliki kekuatan ledakan yang cukup besar. Dilansir dari media lokal Jepang, sekitar 80.000 orang terbunuh dan 35.000 orang terluka. Akhir tahun 1945 sekitar 60.000 orang meninggal dunia akibat luka yang diderita dari ledakan dan keracunan gas. Hal ini secara langsung berdampak buruk bagi Jepang. Akibatnya, selang beberapa hari kemudian Jepang mengumumkan negaranya menyerah akan perang. Peristiwa inilah yang kemudian menandai berakhirnya Perang Dunia II. 

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Seperti apa dampak yang dirasakan oleh Indonesia yang saat itu masih menjadi negara jajahan Jepang? 

Indonesia merupakan negara yang memiliki sejarah panjang dan sangat berkaitan dengan negara lain. Bagaimana pun juga Indonesia pernah dijajah oleh beberapa negara, seperti Jepang, Inggris, bahkan Belanda. Jepang merupakan negara yang memiliki kaitan erat dengan detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, tulisan ini akan sedikit mengulas sebuah peristiwa yang melatar belakangi mengapa teks proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945. 

Pasca kekalahan Jepang di Perang Dunia II, Jepang segera membentuk lembaga Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 7 Agustus di Saigon. PPKI memiliki anggota 21 orang yang diketuai oleh Soekarno dan Hatta sebagai wakilnya. Anggota lainnya diwakili oleh kaum politisi tua dan elit pemerintahan tradisional, yangmana semuanya merupakan orang-orang yang memiliki pengalaman saat pemerintahan Jepang. Akan tetapi, dalam keanggotaan tersebut tidak ada wakil dari golongan muda. PPKI dilantik tanggal 11 Agustus oleh Laksamana Terauchi dan kembali ke Indonesia pada tanggal 13 Agustus. 

Tujuan dari pembentukan PPKI adalah untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Di sisi lain, ada kelompok pemuda yang menginginkan segala sesuatu yang berhubungan dengan proklamasi tidak dikaitkan dengan Jepang. Dalam hal ini kaum pemuda bertekad bahwa jika pimpinan kelompok tua (Soekarno dan Hatta) merasa ragu maka kaum pemuda yang akan mengambil alih dan menyatakan kemerdekaan.

Wikana, atas nama pemuda diutus untuk menemui Soekarno untuk menyampaikan pendapat yang berkaitan dengan keinginan kaum pemuda. Namun, usaha tersebut gagal dan Soekarno-Hatta tetap mempertahankan pendapatnya yaitu, Proklamasi melalui PPKI. Reaksi tersebutlah yang kemudian hari melatar belakangi terjadinya peristiwa penculikan Soekarno dan Hatta. Pada mulanya terjadi perdebatan sengit, sebab Wikana yang membawa usul kaum pemuda tidak mendapat tanggapan baik. Kaum pemuda pun tersinggung atas sikap tersebut, dan kemudian menginisiasi untuk melakukan siasat selanjutnya yaitu menculik Soekarno dan Hatta.

Pada pagi hari tanggal 16 Agustus, Soekarno-Hatta dibawa oleh Soekarni dengan alasan keselamatan mereka dalam bahaya. Alasan tersebut digunakan karena terjadi pemberontakan Peta dan Heiho yang diperkirakan akan menangkap Soekarno dan Hatta. Dua pemimpin itu dibawa ke Rengasdengklok sekitar 80 km di arah timur Jakarta. Di sana, Komandan peta telah menangkap beberapa tentara Jepang dan telah mengibarkan bendera merah putih. Chairul Saleh dan Wikana ditunjuk untuk membantu mempersiapkan para pemuda di Jakarta. Meskipun peristiwa Rengasdengklok telah terjadi, Soekarno-Hatta tetap pada pendiriannya yaitu pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia melalui PPKI dalam artian kemerdekaan diberikan oleh jepang.

Dalam Perang Dunia II, Jepang mengalami kekalahan dan karenanya Jepang harus memelihara status quo. Memperhatikan kondisi ini, proklamasi tidak mungkin dilakukan dalam lingkup PPKI. Maka dari itu, para pemuda segera berkumpul di rumah Maeda untuk menawarkan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia yang sudah disusun sebelumnya. Akan tetapi, naskah tersebut mendapat penolakan dari audiensi rapat di rumah Maeda.

Pernyataan faktual dan seadanya hasil kerja sekelompok kecil Soekarno, yang ditolak para pemuda yang turut hadir di rumah Maeda, justru mendapat persetujuan luas dari anggota PPKI yang hadir. Usulan lain dari para pemuda yang juga ditolak oleh audiensi yang notabenenya kaum tua adalah tanda tangan enam pemuda di bawah tanda tangan Soekarno dan Hatta dalam lembar teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sehingga pada akhirnya diputuskan bahwa naskah hanya ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta saja. Dengan demikian, teks proklamasi kemerdekaan Indonesia yang pendek itulah yang kemudian dibacakan dan yang sampai kepada generasi kita.

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Post a Comment for "Perdebatan Dua Golongan Mengenai Teks Proklamasi"