Membaca Makna Kemerdekaan di Tengah Pandemi
Tak terasa hampir 75 tahun sudah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. Di penghujung perang dunia kedua, bangsa yang dipersatukan oleh penindasan berkepanjangan kaum penjajah justru bersatu dengan asas persamaan yang menyatukan segala macam perbedaan yang sudah ada sejak lama.
Tentu kemerdekaan yang diraih bukan berarti tanpa halangan dan rintangan. Pasca perang dunia kedua berakhir pun masih ada bangsa penjajah yang ingin kembali menguasai negeri ini pada waktu itu. Hingga pada tahun 1949, negeri kincir angin yang awalnya berniat melakukan dekolonalisasi tumbang oleh kegigihan kuat bangsa Indonesia.
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan terus berjalan hingga saat ini. Tantangan demi tantangan silih berganti bukan hanya gara-gara faktor eksternal, tapi seperti kata Bung Karno “perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih berat karena melawan bangsamu sendiri.”
Benar saja, faktor internal yang dihadapi oleh bangsa ini lebih berat dan dampak yang dihasilkan lebih terasa di masa kini. Apalagi, musibah pandemi covid-19 yang tak berkesudahan cukup membuat negeri kita kalang kabut menghadapinya. Belum lagi perbedaan pandangan dalam beropini yang sebenarnya lumrah tak ditanggapi dengan positif.
Justru perdebatan terhadap isu yang ada bisa dikatakan lebih mematikan daripada virus itu sendiri, sehingga opini publik tentang kondisi yang ada seakan terpecah dan sulit dipersatukan. Terlepas dari pendapat yang mengatakan itu pro ataupun kontra, secara tidak sadar hal tersebut malah menggiring kita menuju ke titik terendah dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Harus kita sadari bersama, hal semacam ini tidak boleh kita biarkan mengalir deras layaknya tanggul sebuah bendungan yang mengalami kebocoran. Masing-masing dari pihak yang bertikai harus memikirkan bagaimana nasib bangsa ini kedepannya. Apalagi kita tidak tau sampai kapan pandemi yang sudah memporak-porandakan bangsa ini akan berakhir.
Bagi saya pribadi sulit menerima kenyataan dengan keadaan kita yang terus menerus seperti ini. Padahal, bangsa kita menganut sebuah sistem yang memungkinkan semua pihak yang masing-masing memiliki ciri khasnya untuk bersatu tanpa merusak perbedaan yang ada. Tapi kenyataan tak sesuai harapan.
Bisa kita liat tokoh-tokoh terkenal di negeri ini, entah itu pejabat, publik figur ataupun influencer semakin lama semakin sibuk dengan individu dan kelompoknya masing-masing ketimbang memikirkan bagaimana caranya meminimalisir perpecahan dan krisis yang sedang kita alami dewasa ini. Tanpa berpihak pada siapapun, saya rasa banyak yang setuju dengan opini ini.
Ini yang seharusnya kita tanamkan dari awal, semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang melekat pada dasar negara kita tak hanya sekedar simbol semata. Walaupun banyak yang mengatakan Indonesia terlambat atau apapun itu. Bukankah saling tolong menolong dan bersatu lebih baik ketimbang terus menerus berdebat tanpa menghasilkan penyelesaian yang nyata?
Apalagi beberapa hari kedepan bangsa ini akan merayakan HUT kemerdekaannya yang ke-75. Semboyan Indonesia maju tak lantas hanya berakhir dengan kata-kata. Akan sangat spesial apabila solusi terbaik menyelesaikan permasalahan yang tak berkesudahan akibat pandemi ini menjadi kado terindah untuk negeri yang 17 Agustus nanti merayakan hari jadinya.
Patut dinantikan bagaimana proses penyelesaian ini berjalan ke depannya. Sekarang, yang terpenting bagi kita semua adalah mengesampingkan ego masing-masing. Sudah banyak memang yang mengingatkan tentang ini, namun apa salahnya saya kembali mengajak kita semua untuk berbuat demikian. Karena sekali merdeka tetap merdeka.
Merdeka!
Oleh: M. A. Rasyid
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Post a Comment for "Membaca Makna Kemerdekaan di Tengah Pandemi"
Post a Comment
Add your comment