Budaya Bekasi
Berbicara mengenai seni dan budaya memang tidak akan ada habisnya. Namun, seiring berjalannya waktu pemahaman mengenai seni dan budaya mulai dipandang sebelah mata. Kehadiran seni dan budaya barat lebih banyak dikenal sedangkan budaya sendiri perlahan mulai ditinggal. Sangat disayangkan jika hal ini terus terjadi. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk kembali mengeksplore seni dan budaya yang ada di Indonesia.
Dalam artikel ini dipaparkan beberapa seni dan budaya di Indonesia, khususnya di wilayah Bekasi. Perlu diketahui bahwa sebenarnya sulit untuk menentukan budaya asli Kota Bekasi. Hal ini dikarenakan adanya percampuran antara budaya Sunda, Jawa Barat dan budaya Betawi. Berbeda dengan Kabupaten Bekasi yang sebagian besar penduduknya orang Sunda. Sedangkan mayoritas warga Kota Bekasi berasal dari Jakarta.
Bekasi merupakan kota urban yang mendapat pengaruh kebudayaan dari Betawi. Salah satu pengaruhnya dapat kita lihat dari penggunaan bahasa. Penduduk asli maupun pendatang yang sudah lama menetap menggunakan bahasa Sunda, namun diksi dan kata-kata yang diungkapkan cenderung menggunakan bahasa Betawi. Bagaimana pun juga percampuran antara bahasa Betawi dan Sunda membuatnya lebih menarik dan unik.
Berikut beberapa kesenian yang ada di Kota Bekasi
1. Tari Topeng
![]() |
| Tarian Topeng Sumber Gambar: jakarta.panduanwisata.id |
Tarian Topeng yang biasa di kenal dengan Topeng saja merupakan salah satu jenis kesenian khas bekasi yang relatif masih ada dan banyak penggemarnya, sama halnya dengan musik gambus. Topeng bekasi ini biasanya dimainkan untuk memeriahkan upacara perkawinan, khitanan dan khaulan akan tetapi bisa juga dimainkan dalam acara–acara resmi seperti menyambut tamu, pentas seni dan kampanye pemilu. Walaupun dinamakan tarian topeng namun kesenian ini tidak didominasi oleh tarian saja tapi juga menampilkan lawakan atau komedi yang biasanya menyangkut kisah kehidupan masyarakat kecil. Tari topeng biasanya diiringi oleh beberapa alat musik tradisional seperti gendang, rebab, gong, kenong, dan kecrek.
2. Kesenian Ujungan
![]() |
| Kesenian Ujungan Sumber Gambar: Kumparan.com |
Kesenian Ujungan yaitu kesenian dengan memukul betis dan tulang kering, dengan memanfaatkan kayu aren. Seorang pemain Ujungan langsung meloncat-loncat dengan bergaya lucu. Agar tidak terkena penonton, maka arenanya dipersiapkan terpisah. Sejak tumbuh di jamannya, permainan Ujungan ini sangat digemari warga Kota Bekasi.
Selain itu terdapat beberapa situs bersejarah yang ada di Bekasi. Diantaranya yaitu:
1. Gedung Papak
![]() |
| Gedung Papak Sumber Gambar: jakarta.panduanwisata.id |
Gedung Papak terletak di depan kantor KPU Kota Bekasi tepatnya di Jalan H. Juanda Margahayu Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat. Gedung ini didirikan pada tahun 1930 oleh seorang Tionghoa bernama Lee Guan Tjin. Tidak banyak orang tahu bahwa Gedung Papak merupakan salah satu saksi perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan. Pada tahun 1945 ia menyerahkan gedung ini untuk dijadikan tempat berkumpulnya para pejuang Kota Bekasi.
Setelah Indonesia merdeka, gedung ini dijadikan kantor dinas walikota. Kemudian pada tahun 2004, dialih fungsikan. Lantai 1 gedung ini difungsikan sebagai mushola, sedangkan lantai 2 difungsikan sebagai Kantor Komisi Pemberantasan AIDS.
2. Gedung Juang
![]() |
| Gedung Juang Sumber Gambar: humas.bekasikab.go.id |
Gedung Juang Tambun terletak di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Gedung Tinggi ini sekarang dikenal sebagai Gedung Juang 45. Sebelum Revolusi Nasional bangunan ini bernama Landhuis Tamboen atau Gedung Tinggi, dan merupakan pusat tanah pertikelir milik keluarga Khouw van Tamboen.
Sebelah timur gedung ini pernah dijadikan perundingan pertukaran tawanan antara Belanda dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Pejuang kemerdekaan Indonesia dipulangkan oleh Belanda ke wilayah Bekasi dan tentara Belanda dipulangkan ke Batavia melalui Stasiun Tambun yang lintasan relnya tepat berada di belakang gedung.
Pada tahun 1982, Abdul Fatah yang menjabat sebagai Bupati Bekasi dari tahun 1973-1983 membentuk Akademi Pembangunan Desa di wilayah Tambun dengan menggunakan Gedung Juang Tambun sebagai kampusnya. Akademi Pembangunan Desa ini pada masa sekarang telah menjadi Universitas Islam 45 Bekasi dan telah memiliki kampus sendiri di dekat saluran Irigasi Tarum Barat (Kali Malang) di Jalan Cut Meutia, Kota Bekasi. Pada tahun 1999, gedung ini pernah menjadi kantor sekretariat Pemilu, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, dan sekarang dimanfaatkan sebagai Kantor Pemadam Kebakaran.
3. Situs Buni
![]() |
| Situs Buni Sumber Gambar: radarbekasi.id |
Situs Buni terletak di Kampung Buni Pasar Emas, Desa Buni Bakti, Kecamatan Babelan. Situs Buni merupakan kawasan penemuan benda-benda arkeologi berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Tim Penelitian dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional pada tahun 1960, 1964, 1969 dan 1970. Penelitian ini menghasilkan penemuan berupa tembikar yang terdiri dari macam-macam bentuk dan ukuran seperti periuk, mangkuk berkaki, kendi dan tempayan. Selain itu ditemukan adanya beliung persegi, artefak logam perunggu dan besi, gelang dari batu dan kaca, perhiasan emas, manik-manik, bandul jala dari terakota dan tulang belulang manusia.
Ali Anwar, sejarawan Kota Bekasi menuturkan sejarah Kampung Buni Pasar Emas bermula pada tahun 1960-an ketika kawasan tersebut diserbu oleh para pencari harta karun dari berbagai penjuru yang awalnya ada seseorang sedang membuat parit namun cangkulnya malah mengenai tulang belukang yang dihiasi dengan emas yang menempel pada ratusan kerangka manusia dengan posisi menghadap ke utara. Harta karun yang telah ditemukan itu dijual kepada pedagang emas dadakan yang datang dari kota. Seiring habisnya temuan emas, meredup dan hilang pula transaksi jual-beli emas. Sebagai kenang-kenangan, warga menamainya Jalan Pasar Emas.
Oleh: Siti Wahyuni
(Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)





2 comments for "Budaya Bekasi"
Add your comment