Revolusi Pertanian sebagai Permulaan Domestikasi Manusia

Revolusi Pertanian sebagai Permulaan Domestikasi Manusia

Domestikasi berakar dari kata domestik yang artinya penjinakan hewan liar atau hewan buas. Namun pada zamannya, manusia juga mengalami domestikasi. Apakah berarti dalam pengertian ini manusia juga termasuk dalam hewan liar atau buas?. Tentu!

Manusia adalah hewan. Dalam bahasa agama, manusia adalah hewan yang berpikir. Dalam bahasa sains, manusia adalah hewan yang mampu beradaptasi. Sedangkan definisi lain menyebutkan bahwa manusia adalah hewan yang mampu beradaptasi, bergosip, dan berkhayal.

Manusia pada zaman awal adalah makhluk yang tidak memiliki tempat tinggal (liar), atau dalam bahasa sopannya manusia adalah makhluk yang tinggal secara nomaden. Artinya hidup manusia berpindah-pindah. Bukan tanpa sebab, manusia menjalani hidup nomaden karena mereka tidak memiliki alasan untuk menetap di suatu tempat. Mereka hanya memiliki kelompok kecil yang tidak memberatkan apabila mereka memutuskan unuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Mereka hidup berpindah-pindah, berkelompok, memburu, dan berselisih dengan kelompok lain. Persis seperti hewan yang sedang memperebutkan makanan di sebuah hutan. Manusia pun demikian.

Namun, ada masanya ketika manusia memutuskan untuk hidup menetap dan mengakhiri status sebagai makhluk yang nomaden. Manusia mulai memasuki era dimana mereka harus mengubah gaya hidupnya. Manusia memasuki masa yang disebut sebagai revolusi. Revolusi ini terjadi sekitar 12.000 tahun yang lalu. Manusia mulai tinggal dan menetap di satu tempat. Tidak lagi berpindah dan di tempat itu lah manusia menyimpan keluarga dan harta bendanya.

Sejak matahari terbit sampai matahari terbenam, manusia menebar biji, menyiram tanaman, dan menggiring domba ke lahan subur. Pekerjaan ini diharapkan akan menyediakan lebih banyak buah-buahan, daging, padi-padian untuk mereka makan. Peristiwa itu disebut sebagai revolusi pertanian. Revolusi pertanian adalah revolusi kedua setelah revolusi kognitif. Setidaknya, begitu lah kategorisasi yang disuguhkan oleh ilmuwan sains. Revolusi pertanian tercatat paling tua dimulai di Timur Tengah. Meskipun begitu, bukan berarti revolusi pertanian yang dilakukan di dataran Eropa dan Asia adalah adaptasi dari Timur Tengah.

Orang Amerika Tengah membudidaya jagung tanpa harus belajar atau mengetahui cara dan proses budidaya jagung yang dilakukan oleh orang Asia Tengah. Orang Tiongkok membudidaya padi tanpa tahu apa yang terjadi di Meksiko. Revolusi pertanian memberikan dampak yang luar biasa besar. Budidaya tanaman-tanaman dan domestikasi hewan membuat manusia memiliki kemampuan untuk mengumpulkan makanan lebih banyak dari biasanya.

Stok makanan di gudang mereka tidak lagi hanya untuk hari ini, tapi untuk hari selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya lagi. Dampaknya, manusia semakin menunjukkan keserakahannya. Sifat seorang makhluk omnivora pun semakin terasah dengan adanya revolusi pertanian. Manusia memiliki kecenderungan untuk bekerja lebih keras dalam mengumpulkan makanan untuk persediaan keesokan hari. Pekerjaan tersebut terbilang lebih berat daripada sebelumnya, saat manusia masih memainkan peran sebagai pemburu pengumpul yang hanya berburu dan mengumpulkan hasil buruannya untuk dimakan dan dinikmati bersama komunitas kecilnya di hari itu juga.

Kini manusia sudah terobsesi dengan gaya hidup yang semakin mewah. Mereka menanam padi sebanyak mungkin, menyediakan lahan untuk menanam gandum seluas mungkin, dan meluangkan waktu untuk merawat domba-domba sebanyak mungkin. Manusia mampu maju satu langkah dalam proses menuju manusia modern yang serba kecukupan melalui revolusi pertanian. Namun, ada satu hal yang mengganjal. Apabila pengetian domestikasi adalah proses penjinakan, maka dalam konteks tersebut manusia adalah hewan yang terjinakkan.

Oleh: Muhammad Farih Fanani
Mahasiswa Magister Sejarah Peradaban Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Post a Comment for "Revolusi Pertanian sebagai Permulaan Domestikasi Manusia"