Pabrik Gula Gondang Winangoen Tahun 1860-1942
Pabrik Gula Gondang Winangoen
berdiri pada tahun 1860 oleh perusahan dagang swasta Klatensche Cultur Maatschapij (KCM) yang
berpusat di Amsterdam, Belanda. Pada awal didirikan (1865) pabrik
ini dikelola oleh keluarga Jongkhervan der Wijk, kemudian diteruskan oleh keluarga NV.V
Mirandolle Voute yang tinggal di Semarang.
Pabrik Gula Gondang Winangoen terletak di Kawedanan Gondang Winangoen, sisi barat
kota Klaten dan pinggir jalan yang menghubungkan Kasunanan
Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Pabrik ini merupakan bagian Distrik
Gondang Winangoen Kabupaten Klaten yang masih bagian dari wilayah Kasunanan Surakarta
Pada masa kejayannya tahun 1889-1929, gula menjadi komoditi ekspor yang menguntungkan
pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1864, untuk
mengangkut hasil bumi yang menjadi komoditi ekspor pemerintah membangun
jalur kereta api yang menghubungkan pedalaman jawa ke pelabuhan Tanjung Mas di Semarang.
Pada 1930, di Hindia Belanda terjadi krisis keuangan yang menyebabkan berhentinya produksi gula di Pabrik Gula Gondang Winangoen hingga tahun 1935. Tahun 1942,
tentara Jepang berhasil menguasai Hindia Belanda sehingga pabrik
gula dan perkebuan tebu di Klaten yang berjumlah 9
buah (PG Ceper, PG Wonosari, PG Delanggu PG Jungkare, PG Tulung, PG
Manisrenggo, PG Jatinom dan lain-lain) berhenti beroperasi, berganti
menjadi menanam padi dan jarak untuk kebutuhan perang Jepang. Hanya Gondang Winangoen
yang masih memproduksi gula dengan pengawasan oleh badan usaha
milik Jepang.
Perjalanan Pabrik Gula Gondang Winangoen
Untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok produksi, manajemen menyewa sawah di desa sekitaran pabrik, seperti daerah Joton, Wonoboyo, Mipitan, Tegal Sari, Tambakan, Karangasem, Gumulan, Gantiwanro, Mojayan, Tegalrejo, Tambakbayan, Kaeangnoko dll. untuk ditanami tebu. Selain itu, pihak pabrik juga menyewah tanah di daerah Semarang karena harga sewa tanah cukup rendah dan sudah terhubung dengan kereta api.
| Sumber: Kitlv |
Untuk menjamin roda produksi, Pabrik Gula Gondang Winangoen tentu memerlukan tenaga kerja baik dari tenaga ahli maupun buruh untuk menjalankan produksi. Mayoritas tenaga buruh pabrik berasal dari desa-desa sekitar pabrik yang mata pencahariannya buruh petani dan buruh tegalan yang biasa dikoordinir oleh kepala desa. Sedangkan tenaga ahli mayoritas dari orang Belanda dan Eropa.
Tahun
1929 krisis global melanda seluruh dunia dan mengakibatkan harga hasil bumi dan upah para pekerja
menurun. Di Hindia Belanda krisis ini berdampak pada anjloknya
harga jual komoditi ekspor hasil pertanian akibat lesunya permintan bahan
mentah di pasar global. Krisis Malise juga menghentikan produksi Pabrik Gula Gondang Winangoen selama tahun 1930 hingga 1935. Pada tahun 1936 pabrik gula ini memulai kembali produksi, puncaknya
hasil produksi gula tahun 1940 mencapai 2.237 Kwintal perHektar dari luas
area lahan 1.164,2 Hektar.
Faktor pendorong surplus produksi gula disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya
karena
penerapan sistem tanam tebu yang berasal
dari Kuba. Sistem ini mengunakan parit-parit air untuk memudahkan perawatan tebu dan menggunakan
bibit tebu unggul serta menerapakan
metode tanam lubang sehingga penanam tebu memperoleh hasil panen dengan jumlah
yang melimpah
Krisis Malaise dan Masyarakat Klaten
Krisis
ekonomi membuat Pabrik Gula Gondang Winangoen melakukan pengurangan tenaga kerja pabrik. Sebelum
krisis Malaise,
jumlah tenaga kerja sebanyak 57.000 orang,
setalah krisis tenaga kerja hanya tersisa 23.000
orang yang mayoritas sebagai buruh. Tenaga ahli sebelum
krisis bejumlah 27 orang, pasca kirisis (1936)
menyisakan 11 orang pekerja tetap, sedangkan tenaga adminitarsi dan
pengawas sebayak 42 orang diberhetikan untuk efisiensi
pengeluaran pabrik setelah krisis Malaise.
Dampak krisis ekonomi justru paling dirasakan oleh buruh
mengandalkan hidup sebagai tenaga kerja di sawah-sawah yang ditanami
tebu. Para pemilik lahan kehilangan salah satu
sumber pemasukan dari menyewakan lahan pertanian dari Pabrik Gula Gondang Winangoen. Para pemilik lahan pertanian
terpaksa kembali menjadi petani
menanami padi dan palawija seperti saat sebelum
berdiri pabrik gula. Dampak dirasakan oleh masyarakat sekitar pabrik adalah
tingginya pengguran akibat dari krisis ekonomi melanda Hindia
Belanda
Oleh:
Agus Triyanta
Mahasiswa Magister Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
2 comments for "Pabrik Gula Gondang Winangoen Tahun 1860-1942"
Add your comment