Motif Tato Masyarakat Hatam di Monokwari
Bukanlah kejahatan kalau punya tato. Begitulah penggalan lirik lagu tato dari Shaggy Dog. Dari lagu ini setidaknya stereotip negatif terhadap tato bisa dicounter. Sayang, Indonesia pernah masuk ke dalam satu periode dimana tato menjadi identik dengan kejahatan, keberandalan, dan kriminal. Sampai sekarangpun masih banyak sisa-sisa mental masa lalu yang jelas merusak bingkai kebangsaan.
![]() |
| Tato/Hari Suroto |
Tato secara etimologi berasal dari bahasa Haiti "tattau" yang konon berarti tanda. Tato merupakan bagian dari seni melukis tubuh yang menggunakan alat tajam berupa jarum atau benda tajam yang dibuat dari tumbuhan. Sebenarnya tato merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat yang mendiami wilayah Nusantara. Setidaknya masyarakat di Mentawai, Dayak, dan beberapa suku di Papua, seperi masyarakat Hatam di Monakwari yang menggunakan tato dalam kehidupan kesehariannya dengan berbagai fungsi.
Dalam Jurnal Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional, Windy Hapsari mempublikasikan hasil penelitiannya terhadap tato masyarakat Hatam. Tato disebut Iwim oleh masyarakat sekitar yang berfungsi sebagai sarana ungkapan kepercayaan religius, identitas kelompok, simbol sensual, dan identitas diri.
Motif tato masyarakat Hatam terdapat perbedaan motif bagi laki-laki dan perempuan. Motif laki-laki antara lain kboryenti yang berbentuk mata panah dan motif breda yang berbentuk bintang. Untuk motif perempuan antara lain motif bgeida yang berbentuk hujan, ni towa yang berbentuk bunga anggrek, dan breba yang berbentuk bintang. Selain itu ada motif paibah yang berbentuk matahari.
![]() |
| Sumber Gambar: Dokumen Winda Hapsy |
Kboryenti dipakai laki-laki di dahi menurun hingga di tulang hidung. Makna motif tersebut adalah seorang laki-laki harus mampu seperti mata panah tajam yang harus bersikap jantan, berani, dan siap menjaga diri dan keluarga. Selain itu, motif kboryenti juga sebagai lambang maskulin dan perhiasan.

Motif breba digunakan mengelilingi lengan atas yang harus menyatu atau bersambung. Di masyarakat Hatam, motif breba dipakai oleh laki-laki maupun perempuan. Maknanya seperti bintang yang menyinari banyak orang. Motif breba sekarang banyak dipakai sebagai motif aksesoris yang diletakkan di kepala atau di lengan.

Motif bgeida digunakan perempuan di pipi sebelah kiri atau kanan. Fungsinya melambangkan perempuan dikiaskan seperti hujan yang dapat menyenangkan, menyejukkan hati, dan menentramkan keluarga.
Motif ni towa yang berbentuk bunga anggrek digunakan di pipi atau di atas payudara. Fungsinya sebagai simbol feminim dan perhiasan.
Motif piabah dipakai pada laki-laki maupun perempuan. Ketika digunakan pada laki-laki melambangkan kejantanan, sedangkan ketika digunakan perempuan melambangkan kemandirian.




Post a Comment for "Motif Tato Masyarakat Hatam di Monokwari"
Post a Comment
Add your comment