1 Tungku 3 Batu: Simbol Toleransi Masyarakat Papua

1 tungku 3 batu: simbol toleransi masyarakat papua
Monumen 1 Tungku 3 Batu di Kabaten Fakfak, Papua Barat
Gambar: detiktravel

Konflik antar umat beragama merupakan salah satu persoalan yang ramai diperbincangkan. Biasanya konflik ini bermula dari sekelompok umat yang terlalu menjunjung tinggi keyakinannya, sehingga merendahkan bahkan menyalahkan keyakinan kelompok lain. Sekelompok umat ini menganggap Tuhannya-lah yang benar, sedangkan kelompok umat lain mengakui Tuhannya-lah yang paling benar. Tingkat fanatisme yang tinggi mendorong konflik ini menjadi persoalan yang berkepanjangan. Padahal, Abdurrahman Wahid dalam bukunya telah menyebutkan bahwa Tuhan Tidak Perlu Dibela.

Persoalan sebagaimana di atas tidak berlaku bagi masyarakat Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Sebab, masyarakat Fakfak memiliki pedoman hidup yang tercermin dalam filosofi 1 Tungku 3 Batu. Istilah tungku merujuk pada konsep kebersamaan dan toleransi, sedangkan 3 batu merujuk pada 3 agama yang menjadi keyakinan masyarakat Fakfak, yaitu Islam, Katholik, dan Protestan.

Asal-Usul Masyarakat Fakfak

Munculnya semboyan 1 Tungku 3 Batu erat kaitannya dengan letak geografis wilayah Fakfak. Dahulu, wilayah Fakfak dikenal dengan sebutan “Mbahammatta”. Mbaham merupakan sebutan bagi suku besar yang mendiami daerah pegunungan, sedangkan Matta merupakan sebutan bagi suku besar yang mendiami daerah pesisir. Kedua suku besar ini terlibat hubungan perkawinan, sehingga perpaduan antara keduanya disebut “Mbahammata”.

Mayoritas suku Mbaham menganut agama Kristen, sedangankan suku Matta menganut agama Islam. Perpaduan kedua agama ini menjadikan mereka hidup saling berdampingan, karena sesungguhnya mereka bersaudara. Mereka teguh memegang ikatan persaudaraannya, sebab mereka percaya bahwa kekerabatan usianya lebih tua daripada agama yang telah mereka terima.

Kehidupan Masyarakat Fakfak

Masyarakat Fakfak telah lama hidup berdampingan, membaur dan melebur antara umat satu dengan lainnya. Pasalnya, perbedaan agama bukanlah sesuatu yang baru. Perbedaan agama telah mewarnai kekelurgaan dan persaudaraan mereka. Maka, sangat wajar jika satu keluarga besar terdiri dari anggota-anggota keluarga yang berbeda keyakinan agamanya.

Kesadaran masyarakat Fakfak dalam menjaga perdamaian dan kerukunan dapat dilihat ketika perayaan hari besar keagamaan. Misalnya, ketika umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Umat Kristen dengan senang hati membantu menjaga dan menjamin kelancaran ibadah ibadah hari raya. Umat Kristen juga berkunjung ke rumah-rumah umat Islam sebagaiamana umat Islam berkunjung terhadap sesamanya.

1 tungku 3 batu: simbol toleransi masyarakat papua
Remaja muslim mengiringi pastor dalam prosesi Misa
pembukaan temu OMK se-TPW Fakfak tahun 2015
Gambar: kompasiana.com


Begitu pun sebaliknya, ketika umat Kristen merayakan Natal, maka umat Islam turut terlibat aktif menjaga kelancaran ibadah Misa. Terkadang umat Islam juga diundang untuk bersama-sama menyalakan lilin di dalam gereja.

Selain itu, kerukunan masyarakat Fakfak dapat dilihat dari keterlibatan seluruh komponen masyarakat dalam acara-acara besar. Mereka bergotong royong untuk mensukseskan sebuah acara. Biasanya umat Islam mendapat bagian untuk melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, sedangkan umat Kristen dan Protestan menampilkan tarian-tarian yang bernuansa Kristiani.

Makna simbolik 1 Tungku 3 Batu

Istilah Tungku diartikan sebagai sebuah wadah yang terbuat dari tanah dan digunakan untuk memasak. Tanah dipercaya oleh masyarakat Fakfak sebagai sumber kehidupan manusia. Di mana, segala makhluk hidup membutuhkan tanah demi keberlangsungan hidupnya. Salah satunya tumbuhan, ia membutuhkan tempat untuk hidup dan menyimpan cadangan makanan

Sementara itu, istilah 3 batu dianalogikan sebagai 3 sendi kehidupan, yaitu adat, agama, dan pemerintah. Di mana, setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintahan diharapkan tidak bertentangan dengan adat dan agama. Begitu pun sebaliknya, sehingga ketiga sendi ini dapat bersinergi demi menjaga kerukunan umat.

Semangat kerukunan dan nuansa harmoni yang diciptakan masyarakat Fakfak sejalan dengan semangat ajaran yang dibawa oleh masing-masing agama. Karena sejatinya kehadiran agama membawa rahmat bagi alam beserta isinya.

 

 


Post a Comment for "1 Tungku 3 Batu: Simbol Toleransi Masyarakat Papua"