Kampung Adat Wae Rebo
Kampung adat Wae Rebo merupakan sebuah kampung di atas awan yang mampu mengundang kekaguman bagi siapapun yang berkunjung
Asal-Usul Kampung Adat Wae Rebo
Kampung Wae Rebo terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Munculnya kampung ini bermula dari kisah nenek moyang mereka yang bernama Empo Maro. Dikisahkan bahwa Empo Maro merupakan penduduk asli Minangkabau. Ia ingin mengubah nasib hidupnya dan merantau ke wilayah Timur. Ia tinggal dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyambung hidup. Diantara beberapa tempat yang pernah ia kunjungi, yaitu Bajo, Wara Loka, Nangapang, Todo, Popo, Golo Damu, dan Golo Pando.
Ketika sampai di Golo Damu, ia bekerja sebagai petani dan pekebun. Ketekunan dan keuletannya membuat hasil tanamnya melimpah. Ia hidup berkecukupan. Tak lama setelah itu, ia menikah dengan perempuan Lembor.
Setelah menikah, ia pindah ke Golo Pandu. Di sini, Empo Maro mimpi bertemu dengan seseorang yang mengaku utusan kerajaan Wae Rebo. Utusan tersebut memberinya saran agar Empo Maro pindah ke dataran yang lebih rendah dan memberinya nama Wae Rebo. Empo Maro pun menerima saran tersebut dan memboyong istrinya untuk tinggal ke dataran yang diberinya nama Wae Rebo.
Rumah Adat Mbaru Niang
Rumah adat kampung Wae Rebo dikenal dengan nama Mbaru Niang. Mbaru berarti rumah dan Niang berarti tinggi nan bulat. Karena itulah Mbaru Niang dimaksudkan sebagai rumah yang tinggi dan bulat. Bentuk rumah ini memiliki keunikan tersendiri. Di mana pola kerucut dijadikan sebagai bentuk dasar bangunannya. Pola kerucut yang yang dimaksud disimbolkan sebagai wujud persatuan dan kesatuan antara masyarakat. Sedangkan pola lingkaran lantainya disimbolkan sebagai wujud harmonisasi dan keadilan.
Bagian dalam rumah ini terdiri dari 5 tingkatan. Tingkat pertama disebut Tenda dan digunakan sebagai tempat berkumpulnya keluarga. Tingkat kedua disebut Lobo dan digunakan sebagai tempat penyimpanan makanan. Tingkat ketiga disebut Lentar dan digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil panen. Tingkat keempat disebut Lempa Rae dan digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan makanan untuk menunjang ketika hasil panen menurun. Kemudian, tingkat kelima disebut Hekang Code dan digunakan sebagai tempat penyimpanan sesajian yang dipersembahkan kepada leluhur.
Mbaru Niang berjumlah 7 buah bangunan. Di mana 7 bangunan ini mencerminkan 7 bentang alam yang disucikan, yaitu Mata Air Wae Rebo, Mata Air Regang, Gunung Ponto, Gunung Mehe, Gunung Cadas, Hutan Hembel, dan Hutan Ponto Nao.
Selain itu, 7 rumah ini mempunyai nama yang berbeda-beda. Adapun nama-nama tersebut jika diurutkan dari kiri ke kanan, yaitu Niang Gena Mandok, Niang Gena Jekong, Niang Gena Ndorom, Niang Gendang (Rumah Utama), Niang Gena Pirung, Niang Gena Jintam, dan Niang Gena Maro. Setiap rumah tersebut memiliki daya tampung 6 sampai 7 keluarga. Kecuali rumah utama, memiliki daya tampung sampai 8 keluarga.
Agama dan Kepercayaan
Masyarakat Wae Rebo mengakui agama Katholik sebagai kepercayaan mereka. Meskipun demikian, dalam kehidupan sehari-hari mereka masih memegang erat kepercayaan terhadap roh leluhur dan nenek moyang. Kepercayaan ini tercermin dalam bentuk rumah adat yang syarat akan konsep kosmologis kehidupan.
Kehidupan masyarakat Wae Rebo sangat sederhana. Mata pencaharian utama penduduknya adalah bertani dan bercocok tanam. Sebagian lagi bekerja sebagai tukang tenun yang lebih banyak dikerjakan oleh kaum ibu.
Keunikan kampung adat Wae Rebo pernah dianugerahi penghargaan tertinggi dari UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation pada tahun 2012.
Kampung Adat Wae Rebo bagai negeri di atas awan, karena terletak di ketinggian 1200 mdpl. Jika ingin berkunjung ke Kampung Adat Wae Rebo, pemerintah setempat telah menyediakan jasa paket wisata. Meski cukup sulit untuk bisa sampai kesana, namun semua usaha akan terbayarkan dengan keindahan alam Kampung Wae Rebo yang menakjubkan. So, selamat berkunjung yaa.




Post a Comment for "Kampung Adat Wae Rebo"
Post a Comment
Add your comment