Islam Wetu Telu: Doktrin dan Ajaran
Islam di Lombok tidak bisa dilepaskan dari hukum adat yang telah bersemi sebagai perwujudan budaya lokal. Hukum adat kemudian mendapatkan kesahihannya setelah Islam menjadi kepercayaan mayoritas suku Sasak. Adat dan Islam menjelma menjadi satu kesatuan sebagai tata nilai tunggal yang kemudian dirumuskan dalam “adatgama”. Dalam hal ini dapat ditemukan adanya suatu dialektika antara adat dan Islam yang kemudian menghasilkan sebuah aturan-aturan yang memberi batasan mana yang boleh dan mana yang tidak. Namun, jika terjadi perbedaan antara keduanya, bagaimanapun yang berlaku adalah hukum-hukum kebenaran mutlak dari Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits.
Praktik-praktik keagamaan IWT memang menunjukkan ciri sinkretik, karena memang menekankan pertalian budaya antara kepercayaan suku sasak dengan keyakinan Islam. Namun, kehadiran Islam secara substansial tidak menggeser ritual adat suku Sasak, bahkan Islam memberikan sumbangan yang bermakna terhadap paham-paham yang sudah ada.
Ajaran Islam Wetu Telu
Penganut IWT mempercayai rukun Islam sebagaimana yang dipercaya oleh penganut IWL. Namun, mereka hanya mengakui tiga rukun Islam saja, yaitu syahadat, shalat, dan puasa. Adapun pelaksanaannya, diuraikan sebagai berikut:
1. Syahadat
Pembacaan kalimat syahadat tersebut hanya dilakukan saat pernikahan. Penganut IWT mengakui dua kalimat syahadat sebagai rukun Islam yang pertama. Mereka meyakini akan ke-Esa-an Allah dan mengakui Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Pembacaan syahadat mereka selalu diiringi dengan terjemahan dalam bahasa Jawa.
“Asyhadu anlaa ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Weruh insun nora ana pengeran liane Allah. Lan weruh insun setuhune Nabi Muhammad utusan Allah”.
2. Shalat
Shalat yang dilakukan hanyalah shalat Jum’at saja. Sholat yang dimaksud adalah shalat Idul Fitri, Idul Adha, dan sholat jenazah. Pelaksanaan sholat Idul Fitri dan Idul Adha dilakukan setelah tiga hari jatuh tanggal hari raya menurut perhitungan Islam, sehingga shalat Idul Fitri dilakukan pada 4 Syawal dan shalat Idul Adha dilakukan pada 14 Dzulhijjah. Selanjutnya, sholat jenazah dilakukan bukan di rumah keluarga yang meninggal, melainkan dilakukan di kuburan sebelum jenazah diturunkan ke liang lahat. Sedangkan sholat fardhu dilakukan hanya tiga waktu saja, yangmana setiap kelompok penganut IWT berbeda-beda dalam pelaksanaannya.
3. Puasa
Penganut IWT hanya mengakui satu macam puasa saja, yaitu puasa Ramadhan. Puasa ini dilakukan setelah 3 hari awal Ramadhan ditentukan atau lebih tepatnya pada 4 Ramadhan. Pelaksanaannya dibagi dalam tiga waktu, yaitu pada tanggal 1 sampai 15 Ramadhan, tanggal 16 sampai 20 Ramadhan, dan tanggal 21 sampai 30 Ramadhan. Adapun pelaksanaannya hanya dilakukan para kiai.
Ajaran IWT terlihat lebih sederhana daripada IWL. Hal ini berkaitan dengan metode yang digunakan para mubalig dan kiai pada saat mendakwahkan Islam disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Jadi, sangat wajar jika para mubalig hanya menyampaikan ajaran-ajaran yang berkaitan dengan kehidupan sehari hari saja. Sedangkan ajaran yang memiliki ketentuan berat seperti zakat dan haji belum disampaikan.
Tradisi Islam Wetu Telu
Penganut IWT melakukan praktik-praktik terkait siklus kehidupan yang disebut dengan gawe urip, yang dimulai sejak manusia dilahirkan hingga menikah. Kemudian, ketika meninggal praktik ritualnya disebut dengan gawe pati. Ritual ini dilaksanakan sejak hari penguburan, hari ketiga, ketujuh, kesembilan, keempat puluh, keseratus, dan hari keseribu. Sedangkan tahapan gawe urip praktiknya sebagai berikut:
1. Upacara kelahiran (buang au). Dilaksanakan seminggu setelah melahirkan dengan ritual membuang abu dari arang yang telah dibakar oleh dukun beranak. Kemudian ritual dilanjutkan dengan memberi nama anak yang telah dilahirkan.
2. Upacara pemotongan rambut (ngurisang). Dilaksanakan saat anak berusia 1-7 tahun. Ritual ini dianggap penting karena sebagai pintu utama seorang anak dianggap muslim.
3. Khitanan (ngitanan). Dilaksanakan saat anak laki-laki berusia 3-10 tahun. Ritual ini penting dilakukan sebagai simbol ketaatan sebagai seorang muslim.
4. Meratakan gigi (merosok). Ritual ini dilakukan sebagai simbol peralihan dari anak-anak menjadi dewasa.
5. Mencuri gadis (merari) dan menikah (metikah)
Selain itu, terdapat beberapa tradisi yang berkaitan dengan hari-hari penting dalam Islam, seperti:
1. Rowah wulan dan sampet jum’at
Kedua ritual ini dilakukan sebagai upaya pembersihan diri untuk menyambut bulan puasa. Rowah wulan dilakukan pada hari pertama bulan Sya’ban dan sampet Jum’at dilakukan pada hari Jum’at terakhir bulan Sya’ban.
2. Maleman qunut dan maleman likuran
Ritual maleman qunut dilakukan pada malam keenam belas Ramadhan dengan tujuan menandai keberhasilan melewati separuh bulan puasa. Sedangkan ritual maleman likuran dilakukan pada malam ke-21,23,25,27, dan 29, dengan menghidangkan makanan untuk para kiai.
3. Maleman pitrah dan lebaran tinggi
Maleman pitrah dilakukan dengan memberikan makanan, hasil pertanian, maupuan uang kepada para kiai. Sedangkan lebaran tinggi dimaksudkan sebagai Hari Raya Idul Fitri, di mana para kiai, pemuka adat dan agama, serta penganut IWT melakukan makan bersama
4. Lebaran Topat
Lebaran topat dilakukan pada tujuh hari setelah lebaran tinggi. Dalam praktiknya, kiai dan penghulu melakukan shalat 4 rakaat dengan membaca surat al-ikhlas 100 kali. Kemudian, mereka dan para pengikut IWT makan bersama dengan ketupat sebagai hidangan utama.
5. Lebaran Pendek
Lebaran pendek dimaksudkan sebagai Hari Raya Idul Adha. Pelaksanaannya dimulai dengan melakukan shalat berjamaah, makan bersama, dan memotong kambing.
6. Selamatan bubur puteq dan bubur abang
Selamatan ini dilakukan pada 10 Muharram dan 8 Safar dengan tujuan memperingati munculnya umat manusia dan perkembangannya melalui perkawinan.
7. Maulud
Maulud dilakukan pada bulan Rabi’ul Awal dengan tujuan memperingati pernikahan Adam dan Hawa.

Post a Comment for "Islam Wetu Telu: Doktrin dan Ajaran"
Post a Comment
Add your comment