Ibnu Khaldun dan 7 Kesalahan Penulisan Sejarah
Ibnu Khaldun merupakan filosof muslim yang terkenal dengan pemikiran sejarah. Semasa hidupnya, ia sering melakukan kajian terhadap karya-karya terdahulu. Ia menemukan menemukan banyak terjadi kekeliruan di dalamnya. Sejarah yang ditulis hanya seputar peristiwa politik dan peperangan. Sejarawan lupa bahwa sejarah merupakan ilmu tentang kemanusiaan yang mengkaji semua gejala sosial, termasuk ekonomi, politik, sains dan agama. Selain itu, mereka menulis sejarah tanpa melakukan penyelidikan dan kritik terhadap sumber informasi maupun peristiwa sejarah terlebih dahulu. Akibatnya, sejarah yang dituliskannya mengandung cerita-cerita yang tidak bisa dibedakan antara kebenaran dan kedustaan. Hal penting lain yang menyebabkan terjadinya kekeliruan dalam penulisan sejarah yaitu keluputan sejarawan bahwa dibalik peristiwa-peristiwa sejarah terdapat hukum-hukum yang mengendalikannya.
Biografi Singkat
Ibnu Khaldun mempunyai nama lengkap Abu Zayd Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun. Nama Khaldun dihubungkan dengan garis keturunan kakeknya, yaitu Khalid bin Usman. Sebagaimana kebiasaan orang-orang Andalusia yang terbiasa menambahkan huruf waw dan nun dibelakang nama-nama orang terkemuka sebagai penghormatan dan takzim terhadapnya, maka nama Khalid pun berubah menjadi Khaldun. Ibnu Khaldun lahir pada tanggal 1 Ramadhan 732 H bertepatan pada 27 Mei 1332 M di Tunisia, Afrika Utara. Kemudian, ia wafat saat usianya yang ke-76 tahun pada tanggal 25 Ramadhan 808 H bertepatan pada 19 Maret 1406 M di Kairo.
Semasa Ibnu Khaldun kecil banyak menimba ilmu pengetahuan dari kedua orang tuanya. Ia belajar membaca dan menghafal al-Qur’an sejak berusia 18 tahun. Selain itu, ia juga belajar berbagai ilmu agama dari beberapa guru terkemuka pada masanya. Seperti, ia belajar ilmu gramatika al-Qur’an kepada Abu Abdillah bin al-Qushshar. Belajar ilmu hadits kepada Syamsuddin Muhammad bin Jabir. Belajar ilmu fikih kepada Abu Abdillah Muhammad al-Jiyani Belajar kitab al-Muwatta’ karya Imam Malik kepada Abu Abdullah Muhammad bin Abdussalam. Selain itu, juga belajar ilmu pengetahuan umum kepada Abu Abdillah Muhammad bin Ibrahim al-Abili.
Ibnu Khaldun menghabiskan lebih dari dua sepertiga umurnya di kawasan Afrika Barat. Ia melibatkan diri dalam dunia perpolitikan dengan menerima jabatan pertamanya sebagai anggota majelis ilmuan Sultan Abu Inan dari Bani Marin di ibukota negara Fez. Kemudia ia naik jabatan menjadi sekretaris sultan. Selama di Fez, Ibnu Khaldun giat belajar kepada para ulama dan sastrawan dari Andalusia dan Tunisia. Ia sering mendatangi perpustakaan Fez yang dianggap sebagai perpustakaan terbesar dan terlengkap ketika itu.
Kesenangan menuntut ilmu dan berkecimpung dalam dunia politik rupanya merupakan turunan dari keluarganya. Di Andalusia, keluarga Ibnu Khaldun banyak berkecimpung dalam bidang politik dan akademik. Bani Khaldun lebih terkenal sebagai keluarga yang berpengetahuan luas, berpangkat, dan banyak menduduki jabatan-jabatan penting kenegaraan, serta berperan penting dalam bidang ilmu pengetahuan dan politik. Oleh karena itu, wajar jika ilmu pengetahuan dan politik begitu menyatu di dalam diri Ibnu Khaldun. Apalagi kecerdasan yang dimiliki Ibnu Khaldun turut mendorong keberhasilannya dalam menghimpun antara jabatan pemerintahan dan ilmu pengetahuan.
Pandagan Ibnu Khaldun tentang 7 kesalahan penulisan sejarah
Ibnu Khaldun menemukan banyak kesalahan dalam mengkaji karya-karya sejarah terdahulu. Ia menyusun kesalahan-kesalahan tersebut ke dalam beberapa asas ilmu sejarah. Adapun beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kesalahan dalam penulisan sejarah yaitu:
1. Keberpihakan kepada suatu kepercayaan atau pendapat
Menurut Ibnu Khaldun, dalam penulisan sejarah, seseorang cenderung menerima begitu saja berita yang sesuai dengan kepercayaan atau pendapatnya, tanpa melakukan penyelidikan terlebih dahulu. Mengapa demikian, karena opini yang berkembang sebagaimana dikatakan al-Husri berupa paham yang mengalahkan pemikiran orang, sehingga mempengaruhi pemikiran mereka.
2. Kepercayaan yang berlebihan kepada penutur sejarah
Kesalahan kedua ini disebabkan adanya kepercayaan yang berlebihan kepada penutur sejarah. Adakalanya penutur sejarah seorang yang jujur, namun tidak menutup kemungkinan ia seorang pendusta. Oleh karena itu, sejarawan harus menguji kebenarannya dengan menggunakan metode musthalah hadits yang disebut ta’dil dan tajrih.
3. Sejarawan tidak sanggup memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam peristiwa sejarah
Kesalahan yang dilakukan sejarawan ini disebabkan karena kurangnya memahami maksud yang sebenarnya terjadi dari apa yang dilihat dan didengarnya. Kemudian, ia menghubungkan peristiwa tersebut menurut apa yang dipikirkannya, sehingga menyebabkannya terjatuh dalam kesalahan penulisan sejarah. Menurut Sathi’ al-Husri sebab kesalahan ini meliputi pengamatan psikologis yang benar. Terkadang sejarawan benar dalam mencatat suatu peristiwa sejarah, namun ia keliru dalam memahaminya.
4. Memutlakkan kebenaran yang disampaikan penutur sejarah
Sebab kesalahan yang keempat ini hampir sama dengan sebab kesalahan yang kedua. Sejarawan terlalu percaya dengan berita sejarah yang disampaikan oleh penutur. Kemudian, menganggap berita tersebut sebagai sebuah kebenaran. Akibatnya dalam penulisan sejarah, sejarawan tidak lagi melakukan verifikasi berita tersebut, padahal berita itu belum tentu absah kebenarannya.
5. Ketidaksanggupan sejarawan dalam menempatkan suatu kejadian akibat kekaburan dan kerumitan peristiwa sejarah. Beberapa sejarawan cukup merasa puas dengan mencatat peristiwa sejarah sebagaimana yang dilihatnya. Akibatnya, hal-hal yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa tersebut kurang dilihat, maksud dari terjadinya suatu peristiwa juga kurang ditangkap, sehingga menyebabkan pemutarbalikkan peristiwa sejarah.
6. Keinginan sejarawan untuk mengambil hati orang yang berkedudukan tinggi
Kesalahan yang disebabkan sejarawan ini dilakukan dengan jalan memuj, menceritakan kemasyhuran, membujuk, dan menganggap baik setiap perbuatan mereka, serta memberi tafsiran yang selalu menguntungkan terhadap semua tindakannya. Kemudian ia terdorong untuk menuliskan cerita-cerita bohong tentang para penguasa demi mengambil hatinya.
7. Menurut Ibnu Khaldun, sebab ketujuh ini merupakan sebab yang paling penting. Dalam kitab Mukaddimah, sebab ini diletakkan pada urutan paling terakhir. Sebab ini yaitu, sejarawan tidak mengetahui hukum watak dan perubahan suatu masyarakat. Padahal, segala sesuatu baik benda maupun perbuatan selalu tunduk pada hukum watak dan perubahan. Menurutnya setiap fenomena dalam wujud, baik fenomena alam maupun sosial selalu mempunyai hukum-hukum pengendalinya. Terlepas dalam keadaan mapan maupun berubah. Hukum-hukum ini hendaknya diketahui para sejarawan agar mampu membedakan antara berita yang benar dan berita yang salah.

Post a Comment for "Ibnu Khaldun dan 7 Kesalahan Penulisan Sejarah"
Post a Comment
Add your comment