Dinasti Fatimiyah

dinasti fatimiyah

Dinasti Fatimiyah merupakan satu satunya dinasti Syi’ah yang berkuasa di dunia Islam. Dinasti ini berkuasa dari 909-1171 M dan berhasil mencapai kemajuan-kemajuan besar yang masih dapat dirasakan hingga saat ini. Keberhasilan dinasti ini dicapai pada masa pemerintahan khalifah al-Mu’iz, al-Aziz, dan al-Hakim. Ketiga khalifah tersebut mampu menjadikan Dinasti Fatimiyah sejajar dengan Dinasti Abbasiyah di Baghdad dan Dinasti Umayyah di Spanyol.

Sejarah Berdiri dan Perkembangan Dinasti Fatimiyah

Awal mula berdirinya Dinasti Fatimiyah terjadi pada tahun 874 M ketika Abdullah ibnu Maimun menunjuk pengikutnya, Abu Abdullah al-Husain sebagai pemimpin gerakan Syi’ah Isma’iliyah untuk menaklukan Afrika Utara. Penaklukan ini berhasil, sehingga paham Syi’ah Isma’iliyah sangat berpengaruh. Kemudian, kepemimpinannya digantikan oleh Sa’id ibnu Husain al-Salamiyah. Pada masa pemerintahannya, ia mengutus Abu Abdullah al-Syi’i untuk merebut kekuasaan terakhir Dinasti Aghlabiyah di Afrika Utara dengan mengusir khalifah Ziyadatullah III. 

Pemimpin Dinasti Aghlabiyah terakhir mengalami kekalahan. Mulailah Dinasti Fatimiyah menjadi penguasa baru di Afrika Utara dengan Sa’id ibnu Husain al-Salamiyah sebagai khalifahnya dan bergelar “Ubaidillah al-Mahdi”. Selama masa kekuasaannya, dinasti ini berhasil bertahan selama kurang lebih 262 tahun dengan 14 khalifah sebagai penguasanya. Adapun 14 khalifah tersebut yaitu:
1.Khalifah Ubaidillah al-Mahdi (909-924 M)
2.Khalifah al-Qaim (924-946 M)
3.Khalifah al-Mansur (946-953 M)
4.Khalifah al-Muiz (953-975 M)
5.Khalifah al-Aziz (975-996 M)
6.Khalifah al-Hakim (996-1021 M)
7.Khalifah al-Zahir (1021-1036 M)
8.Khalifah al-Musthansir (1036-1094 M)
9.Khalifah al-Musta’li (1094-1101 M)
10.Khalifah al-Amir (1101-1131 M)
11.Khalifah al-Hafizh (1131-1149 M)
12.Khalifah al-Zhafir (1149-1154 M)
13.Khalifah al-Faiz (1154-1160 M)
14.Khalifah al-Adid (1160-1171 M)

Dinasti Fatimiyah mulai mengalami kemajuannya pada masa khalifah keempat, yaitu Khalifah Muiz dengan keberhasilannya membangun pemerintahan di Mesir yang diberi nama al-Qaahira (Kairo). Dalam bahasa Arab, al-Qaahirah berarti kemenangan atau keperkasaan. Kemudian, pada masa khalifah al-Mansur, Dinasti Fatimiyah mengalami kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Sebagai tempat untuk melakukan kegiatan ilmiah, khalifah membangun Dar al-Hikmah di Kairo. Selanjutnya, puteranya, al-Hakim, turut membangun observatorium terbesar di pegunungan Mukattam.

Sepeningga khalifah al-Hakim, khalifah-khalifah Dinasti Fatimiyah tidak lebih dari boneka yang menjadi permainan para wazir dan jenderal. Selain itu, terjadi bencana wabah penyakit yang menyebabkan gagal panen sehingga perekonomian negara menurun. Akibatnya, banyak wilayah taklukan melepaskan diri dari Dinasti Fatimiyah. 

Kontribusi Dinasti Fatimiyah terhadap Peradaban Islam

Dalam bidang ekonomi, pemerintah membuat pranata tentang pertanian seperti mengeluarkan peraturan tentang penggunaan air dan menentukan besarnya kharaj yang harus dikeluarkan oleh tuan tanah. Di samping pertanian, pemerintah juga memajukan industri tenun. Hasil industri ini banyak diekspor ke luar negeri seperti Persia. Dalam catatan sejarah, Kota Qabs terkenal dengan perindustrian kain bulu yang sangat baik. 

Perkembangan seni arsitektur dapat dilihat dari bentuk Masjid al-Azhar yang dibangun oleh Jenderal Jawhar pada tahun 972 M. Gaya arsitektur masjid ini menyerupai gaya Masjid ibnu Tulun di Mesir yang mendapat pengaruh dari Persia. Selain itu, Masjid al-Aqsa dan Masjid Salih ibnu Ruski kembali dibangun dengan dekorasi gaya Kufi. Pada masa ini banyak dibangun terowongan-terowongan dan pintu gerbang. Gaya arsitektur Dinasti Fatimiyah ini kemudian mempengaruhi gaya arsitektur periode berikutnya, yaitu masa Dinasti Ayyubiyah dan Mamluk.

Dalam bidang ilmu pengetahuan, Khalifah al-Hakim mendirikan Dar al-Hikmah sebagai pusat studi ilmu pengetahuan terbesar untuk menyaingi Bait al-Hikmah di Baghdad. Di dalam Dar al-Hikmah berkumpul banyak tenaga ahli dan ilmuwan dari berbagai bidang ilmu aqliyah dan naqliyah. Dalam bidang filsafat muncul filosof terkenal, yaitu Abu Ya’kub, Ja’far bin Mansur. Dalam bidang matematika muncul Abu Ali Muhammad al-Haitsami. Dalam bidang fisika muncul fisikawan terbesar yaitu Muhammad al-Tamim, Ali bin Yunus sebagai pakar astronomi, Ali al-Hasan bin al-Khaitami sebagai pakar optik.

Keberhasilan dan keuletan para khalifah Dinasti Fatimiyah memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi perkembangan peradaban Islam di Afrika Utara, khususnya di Mesir. Salah satu peninggalan terbesarnya adalah universitas al-Zaituna. Universitas al-Zaituna berdiri pada tahun 978 M di Tunisia. Universitas ini merupakan universitas tertua di dunia Islam. Selain itu, khalifah juga menjadikan Universitas al-Azhar sebagai perguruan tinggi yang mengajarkan ilmu-ilmu agama, ilmu-ilmu alam, dan ilmu umun lainnya. Keberadaan dan kebesaran Universitas al-Azhar masih dapat kita rasakan sampai sekarang.

Kemunduran Dinasti Fatimiyah

Para khalifah terakhir Dinasti Fatimiyah memiliki sifat dan watak yang lemah, salah satunya adalah al-Adid. Pada masanya terjadi pertikaian antara Dirgham dengan Syawar untuk mendapatkan jabatan wazir. Kekalahan Syawar mendorongnya untuk meminta bantuan kepada Nuruddin al-Janggi, penguasa Bani Saljuq. Ia berjanji jika ia berhasil menaklukan Dirgham, maka ia akan membayar upeti dan membagi hasil dengan Nuruddin. Namun setelah ia mendapatkan kemenangan justru berkhianat. Ia mengadakan konspirasi dengan penguasa tentara Salib untuk mengusir utusan Nuruddin, Syirkuh, yang telah membantunya mengalahkan Dirgham.
 
Tindakan Syawar justru membuka peluang penguasa tentara Salib untuk menjarah Mesir. Di samping itu, Nuruddin murka atas penghianatan Syawar yang kemudian mendorongnya untuk mengirim keponakannya, al-Ayyubi. Pada akhirnya terjadilah pertempuran antara pihak Islam dengan tentara Salib untuk merebut Mesir. Pertempuran ini dimenangkan oleh pihak Islam, sehingga pada tahun 1171 M al-Ayyubi menghapuskan kekhalifahan Fatimiyah dan menggantikannya dengan Dinasti Ayyubiyah.

Post a Comment for "Dinasti Fatimiyah"