Review Buku: Orientalism

review buku: orientalism

Orientalisme, merupakan karya seorang sastrawan berkebangsaan Amerika bernama Edward Wadie Said. Melalui karya ini, Said berusaha menggugat hegemoni “Barat” atas “Timur” yang telah berlangsung selama berabad-abad. Dengan melakukan pengkajian terhadap teks-teks tulisan para cendekiawan Barat, terutama para orientalis Inggris, Prancis, dan Amerika antara Abad 18-20 M, Said mencoba menyingkap relasi ideologis yang ada. Kemudian menjadikan orientalisme sebagai sebuah diskursus yang dapat mendorong munculnya kesadaran akan keberadaan orientalisme itu sendiri.

Definisi Orientalisme

Orientalisme berasal dari kata orient yang berarti representasi. Oriental berarti orang yang di-“Timur”-kan, sedangkan orientalisme diartikan sebagai kajian, cara pandang, dan studi formal tentang dunia Timur. Oleh karena itu, istilah orientalisme dapat dimaknai sebagai gaya berfikir yang didasarkan pada pembedaan ontologis dan epistemologis antara “Timur” dan “Barat”. 

Lalu siapakah yang dimaksud Timur dan Barat di sini?

Said melihat orientalisme sebagai 3 fenomena. Pertama, orientalis sebagai orang yang mengajarkan, menulis, dan meneliti tentang dunia Timur, baik orang yang bersangkutan ahli antropologi, sosiologi, sejarah, maupun filologi, baik dari segi umum maupun khusus, dengan mengklaim bahwa dirinya memiliki pengetahuan dan memahami kebutuhan-kebutuhan Timur. Kedua, orientalisme adalah gaya berpikir yang mendasarkan pembedaan ontologis dan epistimologis yang dibuat antara Timur (the orient) dan Barat (the occident). Ketiga, orientalisme dapat didiskusikan dan dianalisis sebagai institusi yang berbadan hukum (formal) untuk menghadapi Timur, berkepentingan membuat pernyataan tentang Timur, membenarkan pandangan-pandangan tentang Timur, mendeskripsikannya, memposisikannya, dan kemudian menguasainya. 

Berdasarkan ketiga pandangan tersebut dapat dikatakan bahwa orientalisme adalah cara Barat untuk mendominasi, merestrukturisasi, dan menguasai Timur. Hal ini didukung dengan  penjelasan yang ada di dalam buku ini bahwa sebenarnya penyebutan Timur dan Barat merupakan sebuah pembagian yang mencakup dikotomi wilayah (geografis), kultur (budaya), dan moral (sistem tata nilai) yang bersifat imajiner. Timur dipandang secara subjekif, sehingga meskipun mendorong perkembangan kajian mengenainya, seringkali berbeda dengan realitanya. 

Barat, dalam hal ini yaitu negara-negara Eropa dan Amerika, sedangkan Timur adalah semua yang berada di luar atau selain dirinya (the others), yang artinya termasuk di dalamnya bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Said menambahkan penjelasannya bahwa, pada masa perkembangannya, terdapat perbedaan konsentrasi antara para orientalis Inggris dan Prancis (dengan beberapa negara Eropa lain seperti Jerman, Italia, Rusia, dsb) lebih banyak mengkaji Timur Tengah (Arab-Islam) dan India, sedangkan para orientalis Amerika lebih banyak mengkaji tentang negara-negara “Timur Jauh”, yakni Jepang, China, dan lain sebagainya.

Kandungan Isi Buku

Buku ini dibagi pembahasannya ke dalam tiga bab. Bab I membahas tentang ruang lingkup orientalisme. Di dalamnya diulas mengenai apa saja yang termasuk dalam dunia "Timur" menurut perspektif Barat. Timur dan Barat yang dilihat sebagai dikotomi geografis, moral ,dan budaya. Contoh-contoh wacana orientalis Barat yang selalu digambarkan maju dan beradab, sementara Timur sebaliknya. Dipaparkan pula mengenai gambaran Timur yang imajinatif sebagaimana tertuang dalam karya-karya penulis Barat (Orientalis), kemudian “Proyek Orientalisme” yang berupa upaya untuk menjadikan bangsa-bangsa Timur sebagai musuh untuk kemudian menjadi sekutu yang tunduk.

Bab II membahas tentang (Re)Strukturasi Orientalisme. Di dalamnya dijelaskan mengenai perkembangan orientalisme sejak abad 18-19 M. Mulai dari sebuah wacana hingga menjadi sebuah disiplin ilmu. Dalam mengkaji perkembangan ini, dua orang pemikir, yakni Silvestre de Sasy dan Ernest Renan, dijadikan Said sebagai tokoh utama dalam perkembangan orientalisme. Dalam hal ini Sasy dipandang sebagai pelopor, dan Renan dipandang sebagai pelanjut generasi kedua. Renan berhasil melestarikan struktur-struktur utama dari kajian orientalisme melalui kajian filologi. Pada bagian ini dijelaskan pula beberapa kritik Said mengenai sumber-sumber berupa cerita pengalaman peziarah Barat banyak yang ditulis ulang menjadi "kajian ilmiah".

Bab III, berjudul “Orientalisme Masa Kini”. Pada bab ini menjelaskan sebuah analisis Said mengenai perkembangan terbaru kajian orientalisme. Said memandang bahwa banyak dari kajian orientalis yang pada awalnya bersifat pengetahuan murni, kemudian menjadi bersifat politis karena berkembangnya kolonialisme dan imperialisme. Kajian yang sebelumnya hanya sebatas wilayah tekstual, kini telah berubah menjadi kajian dalam wilayah-wilayah politik dan kekuasaan. Para orientalis dalam perkembangannya berusaha untuk menyesuaikan kisah-kisah perjalanan para pengembara Barat di masa lalu dengan penjelasan para ahli-ahli modern. Hal ini bisa dilihat dari sejumlah “Jejak Orientalisme”. 

Mahasiswa Magister Sejarah dan Peradaban Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Post a Comment for "Review Buku: Orientalism"