Kesultanan Perlak: Kesultanan Islam Pertama di Nusantara

kesultanan perlak: kesultanan islam pertama di nusantara

Kedatangan Islam ke Nusantara berawal dari datangnya Islam di Pulau Sumatera. Para Sejarawan mencatat bahwa abad ke-8 sampai ke-13 M merupakan masa Islam mencapai puncak kejayaan. Keberhasilan menguasai wilayah-wilayah strategis Romawi dan Persia berdampak pada proses penyebaran Islam di Nusantara. Terbentuknya masyarakat muslim di beberapa wilayah hingga berdirinya kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara.

Sejarah Berdiri Dan Perkembangan Kesultanan Perlak

Kerajaan Perlak merupakan kerajaan pertama yang didirikan pada tahun 225 H/840 M di Perlak, Aceh Timur. Nama Perlak berasal dari istilah ”Kayu Perlak”. Kayu ini sangat baik untuk dijadikan bahan pembuatan perahu atau kapal. Banyak saudagar yang datang ke Perlak untuk mengambil kayu, sehingga kemudian wilayah ini disebut dengan “Negeri Perlak”. Para pedagang China, Arab, Persia, dan India yang singgah di Negeri Perlak sering menyebutnya dengan “Bandar Perlak”.

Dalam Idhar Al-Haq, naskah Melayu tua karya Abu Ishak Makarani al-Fasy disebutkan bahwa sekitar tahun 790 M, sebuah kapal layar telah berlabuh di Bandar Perlak. Kapal tersebut membawa 100 juru dakwah dari teluk Kambay, Gujarat. Salah seorang juru dakwah  bernama Ali bin Muhammad Ja’far Shiddiq. Ia adalah muslim Syi’ah yang memberontak kepada Khalifah al-Makmun. Dalam pemberontakan itu, Ali mengalami kekalahan. Khalifah Makmun tidak memberikan hukuman berat baginya, melainkan memerintahkannya untuk berdakwah keluar negeri Arab.

Di Perlak, Ali menikah dengan puteri istana Perlak. Putra pertama dari pernikahan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Kesultanan Perlak. Syeh Maulana Abdul Aziz Syah bergelar Sultan Alaidin Syeh Maulana Abdul Aziz Syah mendirikan Kesultanan Perlak pada tahun 840 M. Kesultanan Perlak banyak dipengaruhi oleh aliran Syi’ah mengingat ayah Sultan adalah muslim Syi’ah.

Pada masa Sultan Perlak ketiga, aliran Sunni telah menyebar di kesultanan ini. Hal ini tidak disukai oleh Sultan Perlak yang beraliran Syiah, sehingga terjadi pergolakan hebat antara Syiah dan Sunni yang berujung pada kekosongan kepemimpinan selama 2 tahun, yaitu antara tahun 913-915 M. Dalam peperangan ini Syiah menang dan berhasil memegang kekuasaan yang dipimpin oleh Sultan Alaidin Maulana Ali Mughat Syah. Namun, di akhir kekuasaannya terjadi lagi pergolakan dan akhirnya dimenangkan oleh aliran Sunni, sehingga sultan-sultan berikutnya berasal dari golongan Sunni

Pada tahun 983 M, di akhir kepemimpinan Sultan Perlak ke-7 terjadi lagi perang suadara selama  4 tahun, yaitu 983-986 M yang diakhiri dengan perjanjian perdamaian dan pembagian kekuasaan menjadi dua kubu. Masing-masing mengangkat Sultan sendiri yaitu, Perlak Pesisir dari kubu Syi’ah dipimpin oleh Sultan Alaidin Syeh Maulana Syah dan Perlak Pedalaman dari kubu Sunni dipimpin oleh Sultan Makdum Alaidin Malik Ibrahim Syah Johan.

Dualisme ini dimanfaatkan oleh Kerajaan Sriwijaya dengan menyerang Perlak pada 986 M. Ketika peperangan berlangsung, Sultan Perlak Pesisir meninggal dunia. Kemudian, Kesultanan Perlak kembali bersatu di bawah kepemimpinan Sultan Makdhum Maulana Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat. Ia melanjutkan perjuangan melawan Kerajaan Sriwijaya hingga 1006 M. Pada masa pemerintahan Sultan Perlak ke-17, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat menjalankan politik persahabatan dengan  menikahkan dua puterinya dengan penguasa negeri tetangga. Putri Ratna Kamala dinikahkan dengan Sultan Muhammad Shah dari Kerajaan Malaka. Kemudian, Putri Ganggang dinikahkan dengan Sultan Malik al-Saleh dari Kesultanan Samudera Pasai.

Seiring melemahnya Kerajaan Perlak, pada masa pemerintahan Sultan terakhir, Perlak menggabungkan diri ke dalam Kesultanan Samudera Pasai. Pada tahun 1292 kedaulatan Perlak resmi berakhir dan kekuasaan Islam digantikan dengan Kesultanan Samudera Pasai

Islamisasi Di Kesultanan Perlak

Islam Terus berkembang di Perlak. Perkembangan dan kemajuannya terlihat pesat hingga abad ke-13 M. Hal ini diakui oleh Marcopolo yang pernah singgah di Perlak pada tahun 1291 M. “Ferlec (istilah Marcopolo untuk menyebut Perlak) merupakan Kesultanan Islam yang ramai dikunjungi saudagar-saudagar Islam Araab dan Persia. Bahkan Ferlec merupakan pusat perniagaan maju dan menjadi tumpuan perdagangan di Nusantara”.

Letak strategis Kesultanan Perlak yang berada pada jalur perdagangan internasional menjadikan proses Islamisasi semakin mudah. Para saudagar yang berdatangan dikenalkan dengan ajaran-ajaran Islam. Transaksi perdagangan bagi masyarakat Perlak juga diberlakukan sesuai dengan ajaran Islam. Selain itu, terjadinya pernikahan antara saudagar Muslim dengan perempuan pribumi turut menjadikan proses Islamisasi berkembang pesat.

Oleh: Adib Abbiya Qowiyyudin (Mahasiswa Magister Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)


Post a Comment for "Kesultanan Perlak: Kesultanan Islam Pertama di Nusantara"