REVIEW BUKU: BULAN SABIT TERBIT DI ATAS POHON BERINGIN

review buku: bulan sabit terbit di atas pohon beringin


Sebuah karya disertasi doctoral seorang antropolog berkebangsaan Jepang, Mitsuo Nakamura dari Cornell University.

Karya Mitsuo Nakamura memiliki judul asli The Crescent Arises over the Banyan Tree: A Study of The Muhammadiyah Movement ia a Central Javanese Town 1910-2010. Karya akademik ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh M. Yuanda Zara dan diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah pada tahun 2017.

Mitsuo Nakamura adalah generasi ketiga setelah Clifford Geertz dan Harry Benda yang mengkaji Islam di Indonesia. Nakamura mengambil studi kasus perkembangan Islam dengan mengkhususkan lokasi penelitiannya di Kotagede. Berdasarkan hasil penelitiannya, ia menemukan bahwa:

Telah terjadi transformasi kebudayaan di Kotagede. Transformasi ini berasal dari Islam ortodoks yang diwujudkan dalam bentuk pergerakan reformasi Muhammadiyah. Ia muncul dari dalam Islam Jawa Tradisional sebagai transformasi intern yang telah, sedang, dan akan membawa perubahan-perubahan besar dalam bidang ekonomi, sosial, kultural, dan politik masyarakat Jawa.

Muhammadiyah digambarkan sebagai gerakan yang memiliki banyak wajah. Dari jauh memang tampak doktriner, namun dari dekat sedikit lebih terlihat sistematisasi teologis. Muhammadiyah nampak agresif dan fanatik, namun realitanya cara penyampaiannya secara perlahan dan toleran. Nampak anti jawa, namun dalam banyak hal mewujudkan sifat baik orang Jawa.

Penelitian Nakamura dapat dikatakan sebagai anti-tesis dari The Religion of Java karya Clifford Geertz. Nakamura mengoreksi teori Geertz dengan menyimpulkan bahwa klasifikasi mengenai tiga varian Islam ternyata tidak relevan. Hal ini dibuktikan dengan pergerakan reformis Muhammadiyah justru banyak didukung oleh abdi dalem keraton atau priyayi di Kotagede.

Demikian halnya dengan Islam di Jawa. Nakamura mengatakan bahwa agama Islam di Jawa bukan agama yang termarginalkan. Akan tetapi, Islam merupakan agama yang sedang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Jawa. Islam tidak tumbuh melawan kebudayaan Jawa, melainkan Islam memberi warna kebudayaan Jawa. Islam tidak menghambat dan menghalangi perubahan budaya Jawa, melainkan Islam menginspirasi perubahan budaya Jawa. Islamisasi dan modernisasi bukan suatu hal yang bertolak belakang melainkan suatu proses yang saling mengisi dan mendukung untuk berkembang.

Teorinya itu disimbolkan dengan “Bulan Sabit” sebagai lambang Islam dan “Pohon Beringin” sebagai lambang kepercayaan orang Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran Islam telah mampu bersinergi dengan kebudayaan Jawa yang sinkretik. Islam berhasil memberi warna tanpa menghilangkan karakter asli Jawa. Oleh karenanya, “Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin” dapat dimaknai sebagai proses reislamisasi yang terjadi di balik masyarakat yang memiliki sistem kepercayaan Jawa.

Oleh: Agus Triyanta (Mahasiswa Magister Sejarah dan Peradaban Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Post a Comment for "REVIEW BUKU: BULAN SABIT TERBIT DI ATAS POHON BERINGIN "