Alat Astronomi Islam dan Arah Kiblat

Alat Astronomi Islam dan Arah Kiblat

Islam bisa jadi sebagai agama yang menimbulkan banyak peradaban di dunia ini. Pasalnya untuk perihal ibadah saja, ada banyak hal yang dihasilkan. Sebut saja seperti ibadah shalat yang dikerjakan lima waktu dalam sehari oleh pemeluknya. Dalam pelaksanaannya setidaknya diawali dengan pakaian yang menutup aurat, bersuci dengan berwudhu, dilaksanakan di tempat yang suci dan diutamakan secara berjemaah di masjid serta menghadap kiblat. Ibadah shalat terus menimbulkan banyak bangunan masjid di dunia ini. Hal yang terpenting menurut kami adalah dengan keharusan shalat yang menghadap kiblat menghasilkan berbagai teknologi untuk menentukan arah kiblat sejak masa awal Islam hingga masa ini.

Menurut beberapa catatan astronomi telah dikenal orang beberapa masyarakat pada masa lampau untuk navigasi dan digunakan dalam pertanian. Dalam konteks astronomi Islam ada beberapa cara untuk menentukan arah kiblat diantaranya dengan melihat arah angin dan menggunakan alat-alat bantu. Sebelum masuk membahas mengenai cara melihat kiblat, ada baiknya kita bahas mengenai ka'bah sebagai kiblat orang Islam.

Sekilas Ka'bah
Ka'bah tergolong baru menjadi kiblat pemeluk Islam. Sebelumnya Muslim menghadap Baitul Maqdis dalam mengerjakan shalat, setelah perintah melaksanakan shalat untuk menghadap Baitullah (ka'bah) barulah Muslim shalat menghadap ka'bah.

Ka'bah merupakan bangunan berbentuk kubus yang saat ini berada dalam kawasan Saudi Arabia. Bangunan ini disebut ka'bah karena berbentuk kubus dan meninggi. Al-Ka'b dalam bahasa Arab bermakna tiang yang menjulang tinggi dan menyatu pada sisi depan dan sisi belakang. Ka'bah memiliki empat pojokan atau sering disebut rukun, yaitu rukun Iraqi (pojok utara), rukun Syami (pojok barat), rukun Yamani (pojok selatan), dan rukun Aswadi yang terdapat batu hitam (Hajar Aswad).

Dalam pendapat yang populer, ka'bah dibangun oleh Ibrahim as dan Ismail as. Pendapat lain mengatakan bahwa ka'bah telah dibangun pondasinya oleh manusia pertama di bumi, Adam as dan Nabi Syits. Ada juga yang berpendapat bahwa sejak dulu dibangun dan dipelihara oleh para Malaikat. Baru-baru ini muncul pendapat yang berbeda oleh Adi Hidayat (UAH) mengenai ka'bah, menurutnya ka'bah dibangun oleh Allah Swt. setelah penciptaan manusia pertama. Ditambahkannya Ibrahim as dan Ismail as hanya meninggikan bangunan ka'bah setelah hancur bagian atasnya di masa Nuh as. Ia menegaskan bahwa ka'bah bukan dibangun oleh manusia, tapi dibangunkan untuk manusia.

Setelah Ibrahim as dan Ismail as wafat, pemeliharaan ka'bah dilanjutkan oleh suku Jurhum, Khuza'ah, dan kabilah-kabilah Quraisy. Menjelang dan awal kedatangan Islam, ka'bah dijaga oleh kakek Nabi Muhammad Saw., Abdul Muthalib. Ka'bah juga pernah mengalami penyerangan oleh Abrahah raja dari negeri Habasyah dengan pasukan bergajah, namun tidak berhasil. Peristiwa besar ini diabadikan dalam QS 105: 1-5.

Ka'bah pernah juga mengalami pemugaran pasca banjir yang menggenangi pelataran dan dinding-dinding ka'bah. Para pemuka Quraisy ikut andil dalam proses pemugaran tersebut, namun timbul perselisihan ketika siapa yang meletakkan Hajar Aswad. Setelah perselisihan yang lumayan ketat tersebut akhirnya dipercayakan kepada seorang yang diberi gelar Al-Amin, Muhammad Saw.

Ka'bah dahulunya banyak terdapat berhala-berhala yang dibangun di sekitaran bangunannya. Berhala-berhala tersebut dihancurkan pada masa Islam. Ka'bah saat ini selalu ramai dikunjungi oleh jemaah Haji dan Umroh.

Menentukan Kiblat
Setelah melihat sekilas tentang ka'bah saatnya kita melihat mengenai kiblat. Sederhananya kiblat juga bermakna ka'bah. Kiblat juga diterjemahkan sebagai jarak terpendek ke Ka'bah. Lalu, bagaimana cara menentukan arah kiblat? Menurut Imam Ghazali dalam menentukan arah kiblat terdapat tiga cara, salah satunya dengan petunjuk angin syimal, janub, saba, dan dabur.

Menurut Abu Bakar Al-Farisi seorang ahli ilmu falak yang berasal dari Yaman bahwa ka'bah terbukti dibangun bersesuaian rukun-rukunnya dengan empat pola arah pergerakan angin yang berhembus di kota Mekkah dengan interval satu tahun. Keempat angin tersebut adalah angin syimal, janub, saba, dan dabur.

Angin syimal adalah angin yang berhembus pada rukun sebelah utara ka'bah. Angin janub adalah angin yang berhembus pada rukun Yamani dan sekitarnya. Angin saba adalah angin yang berhembus pada rukun Hajar Aswad. Angin dabur adalah angin yang berhembus pada rukun sebelah barat dan sekitarnya. Cara menentukan kiblat dengan petunjuk angin ini digunakan berabad-abad walau dengan tingkat ketepatan yang bersifat perkiraan saja.

Dengan persebaran Islam di berbagai belahan dan perkembangan teknologi yang ada. Penentuan arah kiblat butuh sebuah hal yang akurat dan tidak bersifat perkiraan saja. Seiring dengan fenomena persebaran Islam muncul beberapa alatyang membantu dalam menentukan arah kiblat dari instrumen klasik hingga instrumen yang bisa dipakai hanya dengan menyentuhkan jari. Berikut beberapa alat-alat yang digunakan dalam menentukan arah kiblat.

Rub' al-Mujayyab atau Sine Quadrant
Alat ini merupakan alat astronomi klasik yang berbentuk seperempat lingkaran dengan fungsi yang beragam dan desain yang sederhana. Alat ini juga berfungsi menentukan waktu shalat. Alat ini terdiri dari busur 90 derajat yangmana pada busur tersebut terdapat nomor yang menunjukan waktu. Di bagian tengahnya terdapat garis lurus lengkung yang saling menyilang dan memotong.
Alat Astronomi Islam dan Arah Kiblat
Rub' al-Mujayyab atau Sine Quadrant

Al-Usthurlab atau Astrolabe
Alat ini paling banyak digunakan untuk mengukur kedudukan, bentuk, dan fenomena langit. Alat ini sudah dikenal sejak zaman Yunani. Alat ini berupa lempengan berbentuk lingkaran utuh dan terbagi dalam empat bagian lingkaran dan di dalamya terdapat nama-nama rasi bintang, angka-angka derajat, dan lain-lain. Alat ini merupakan alat astronomi populer dalam peradaban Islam.

Alat Astronomi Islam dan Arah Kiblat
Astrolabe Ibnu Safar

Theodolit
Alat ini dapat mengukur sudut vertikal dan sudut horizontal. Alat ini berpedoman pada posisi benda-benda langit dan pergerakan benda-benda langit. Penentuan arah kiblat dengan alat ini menghasilkan pengukuran yang sangat teliti. Theodolit terbagi atas dua bagian, yakni bagian atas dan bagian bawah. Bagian atas terdiri dari teropong, nivo tabung, sekrup okuler dan objektif, sekrup gerak vertikal dan horizontal, nivo kotak, sekrup pengunci teropong, sekrup pengunci sudut vertikal, sekrup pengatur menit dan detik, dan sekrup pengatur sudut vertikal dan horizontal. Bagian bawah terdiri dari statif, tiga sekrup pengatur nivo kota, unting-unting, sekrup repitisi, dan sekrup pengunci pesawat dengan statif. 

Alat Astronomi Islam dan Arah Kiblat
Theodolit

Aplikasi berbasis Android ataupun IOS
Selain alat-alat di atas ada juga kompas, GPS, dan aplikasi berbasis Sistem Operasi ponsel pintar. Dalam penggunaan aplikasi pada ponsel pintar cukup sederhana, tinggal instal dan gunakan. Beberapa aplikasi tersebut adalah Muslim Pro, Qibla Compass, dan masih banyak lagi.

Post a Comment for "Alat Astronomi Islam dan Arah Kiblat"