HILANGNYA PERJUANGAN TIONGHOA DALAM SEJARAH INDONESIA
![]() |
Kali ini pembahasan sedikit berbelok pada isu-isu non-konvensional, karena hal kontroversial agaknya lebih membuka mata pembaca yang budiman.
Isu mengenai Etnis Tionghoa dari zaman old sampai zaman now seakan-akan terpendam mengikuti derasnya arus modernisasi di Indonesia. Pembicaraan berkenaan orang-orang Tionghoa sedikit terabaikan mungkin karena kita biasa berkata seperti ini, “orang Cina (sekarang disebut Tionghoa) bisanya cuma berdagang menguasai perekonomian (kapitalis) yang merugikan penduduk lokal di Indonesia. Terus apa kontribusi mereka bagi bangsa ini? Bisanya Cuma bikin ribut, angkuh, kaku, eksklusif dsb.”.
Ada benarnya perkataan di atas, ketika orang Tionghoa itu masih fanatik dengan budaya nenek moyangnya (sebut saja Totok). Berbeda dengan Tionghoa blesteran, Tionghoa jenis ini adalah mereka yang lahir dari rahim seorang ibu Bumiputra (sebut saja peranakan). Mereka biasanya lebih Indonesia dalam perkataan dan perbuatannya. Jadi harus dibedakan ketika kita berbicara mengenai orang Tioanghoa.
Sedikit Sejarah
Pada masa penjajahan Belanda, orang Tionghoa selalu menjadi kambing hitam pemerintah atas kuasanya pada Bumiputra. Menjadi golongan “perantara” di masa Hindia Belanda adalah satu keniscayaan bagi orang-orang Tionghoa (totok). Namun keniscayaan ini selalu mendapat tentangan dari penduduk Bumiputra.
Kekayaan bangsa Tionghoa (totok) terlalu berkilau di mata Bumiputra, karena kekayaan Tionghoa (totok) berbanding terbalik dengan keadaan Bumiputra yang rata-rata dalam keadaan miskin. Bangsa Tionghoa (totok) sering dianggap sebagai bangsa yang tidak tahu malu dan kurang bersahabat dengan Bumiputra.
Segala kesalahan kebijakan pemerintah Hindia Belanda pun selalu teralamatkan kepada penduduk Tionghoa (totok) sebagai bangsa “perantara”. Politik kambing hitam pemerintah Hindia Belanda bisa dikatakan selalu berhasil.
Sesuatu yang Hilang
Karena latar sejarah buruk yang dibentuk pendahulunya, sumbangsih Tionghoa (peranakan) dalam membangun sejarah Indonesia juga (seolah-olah sengaja) “di”hilang”kan” oleh penguasa Orde Baru. Akibatnya anak-anak sekolah sekarang tidak mengenal pahlawan dari bangsa kulit kuning itu. Meskipun anak-anak sekolah sekarang juga tidak banyak mengenal pahlawan nasional selain Soekarno, Hatta, dan Jenderal Sudirman.
Nasionalisme yang identik dengan identitas “ke”lokal”annya”, sepertinya telah banyak memendam bahkan (sengaja) menutupi perjuangan bangsa lain di negeri kita tercinta ini.
Orang-orang Tionghoa (entah totok entah peranakan) yang “katanya” sering Ngrusuhi (mengganggu) ekonomi Bumiputra ini, ternyata pernah berkontribusi bagi bangsa Indonesia.
Berikut nama-nama yang sering hilang dalam buku-buku pendidikan sejarah Indonesia berkaitan dengan kepanitiaan Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI): 1. Liem Koen Hian, 2. Oey Tiang Tjoei, 3. Oei Tjong Hauw. 4. Mr. Tan Eng Hoa. Terutama Liem Koen Hian, ia adalah salah satu tokoh Tionghoa (peranakan) yang menjadi pionir dalam kemerdekaan pers di Indonesia.
Cara Bijak
Akhirnya sesuatu yang hilang itu telah terkonfirmasi dalam tulisan ini. Jadi mulai sekarang bentuklah kesadaran, bahwa terlalu mengagungkan sejarah bangsanya dan menafikkan sejarah bangsa lain, itu sama saja menari-nari di atas penderitaan orang yang sedang patah hati dan jauh dari Tuhannya. Sekiranya kita harus membantu mereka memulihkan patah hatinya dan membantu mereka juga agar lebih dekat dengan Tuhannya.
Akhir kata, penulis ingin mengatakan seperti ini “dalam menulis sejarah, jangan hanya mencari kebenaran parsial yang akhirnya menghilangkan esensi kebenaran sejarah itu. Sejarah bukan hanya untuk para pemenang, sejarah adalah milik semua orang yang ada dalam sistem peradaban manusia.”
Cukup sekian, semoga bisa berjumpa ditulisan berikutnya.

Post a Comment for "HILANGNYA PERJUANGAN TIONGHOA DALAM SEJARAH INDONESIA"
Post a Comment
Add your comment