Agus Salim vs Sultan Takdir Alisjahbana: Sebuah Dialog tentang Hakikat Iman

agus salim vs sultan takdir alisjahbana: sebuah dialog tentang hakikat iman


Agus Salim dan Sutan Takdir Alisjahbana merupakan dua tokoh terkenal dari Minang. Agus Salim terkenal dengan kemampuan diplomasi dan bahasanya, Takdir terkenal sebagai seorang sastrawan ulung dan cerdas. Untuk kesempatan kali ini kita akan melihat mereka dalam sebuah dialog tentang hakikat keimanan. 

Takdir mengaku sebagai orang yang modern dan rasional, oleh karena itu, dia mengagumi Ibnu Rusyd. Karena di duni Islam Ghazali yang populer dan di dunia Barat  Ibnu Rusyd yang menang, maka akhirnya Ibnu Rusyd yang menjajah Ghazali. Jadi Indonesia dijajah Belanda sama halnya Ghazali dijajah Ibnu Rusyd, menurut Sutan Takdir Alisjahbana. 


Konon, suatu ketika Agus Salim digugat oleh Takdir. 

"Pak Haji, pak haji kan orang yang sangat terpelajar, masa masih biasa sembahyang. Artinya, kok masih memercayai agama?" Gugat Takdir.

Agus Salim berkata: "Maksud saudara apa?"

"Maksud saya, sebagai orang terpelajar saya tidak membenarkan sesuatu kecuali kalau saya paham betul". Lanjut Takdir.

"Betul, memang begitu. Alquran sendiri mengatakan demikian. Akan tetapi begini, kita kan terbatas, karena terbatas kalau rasio kita sudah pol, maka sebagian kita serahkan kepada iman." Agus Salim menjelaskan.

Ternyata Sutan takdir belum puas dengan jawaban tersebut.

Lalu Agus Salim menambahkan:

"Begini aja deh, Takdir kan orang Minang, kan suka pulang ke Minangkabau, pulang kampung naik apa?"

"Naik kapal." jawabnya.

"Kamu naik kapal itu menyalahi prnsipmu. Sedikit sekali yang kamu ketahui tentang kapal. Paling-paling bagaimana tiketnya dijual di loketnya saja yang kamu tahu. Pembuatan tiket juga kamu tidak tahu."

"Seandainya kamu konsisten dengan jalan pikiran kamu hai Takdir, harusnya kamu pulang ke Minang itu berenang. Ya begitu, sebab berenang itu yang paling memungkinkan usahamu. itu saja masih banyak sekali masalah. Bagaimana gerak tangan kamu saja mungkin kamu tidak paham."

Agus Salim menambahkan, "Nanti kalau kamu berenang di Selat Sunda kamu diombang-ambing ombak dan kamu akan berpegang pada apa saja yang ada."

"Dalam keadaan panik, kamu akan berpegang pada apa saja yang ada. Untung kalau kamu ketemu balok kayu yang mengambang. Akan tetapi kaau kamu ketemu rantin, itupun akan kamu pegang. Ketemu barang kuning juga kamu pegang."

Post a Comment for "Agus Salim vs Sultan Takdir Alisjahbana: Sebuah Dialog tentang Hakikat Iman"